LENSAINDONESIA.COM: Menurunnya daya beli daging segar dan sapi cukup mempengaruhi kualitas masyarakat ekonomi, dan kualitas kesehatan. Karena alasan itulah pengamat Ekonomi Pasar Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Ahmad Syafii, mengatakan penting bagi pemerintah seperti Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) untuk terjun dan melakukan intervensi pasar. Sebab, struktur pasar daging sapi di Indonesia bersifat Oligopoli atau hanya dikuasai beberapa perusahaan saja.

Dalam pasar oligopoli, setiap perusahaan memposisikan dirinya sebagai bagian yang terikat dengan permainan pasar, di mana keuntungan yang mereka dapatkan tergantung dari tindak-tanduk pesaing mereka. Disebutkan, situasi ini mirip dengan fenomena pedagang komoditas garam, kedelai, gula, hingga beras.

“Pemerintah mewakili KPPU seharusnya wajib turun ke lapangan memantau dan intervensi pasar. Karena komoditas yang sifatnya oligopoli terjangkau dan mudah mempermainkan pasar atau mafia,” sebut Ahmad Syafii di tengah Seminar Nasional Swasembada Daging oleh Paguyuban Pedagang Sapi dan Daging Segar (PPSDS) Jatim, Jumat (8/2/2013).

Konteks kelangkaan daging sapi, cukup membuat kontribusi IHK dan inflasi tiga bulan terakhir. Apalagi, daging sapi jadi salah satu sumber protein hewani yang dibutuhkan masyarakat.

Dalam kesempatan ini, Syafii juga meminta agar data yang ada dari berbagai sumber tidak seragam dan diimbau ada koreksi ulang. Peran KPPU melakukan intervensi pasar agar pelaku tidak sembarangan mempermainkan harga. “Kami juga mengimbau pemerintah berikan skema kredit proses penggemukan dan lain-lain agar lebih selektif dan sesuai target,” tandasnya. @Panjichuby_666