Advertisement

LENSAINDONESIA.COM: Pendukung Anas Urbaningrum (AU) ada yang dari kalangan nahdliyyin adalah fakta. Tetapi agak terlalu menyederhanakan masalah jika perseteruan AU vs SBY dikait-kaitkan dengan ingatan kaum nahdliyyin terhadap kasus Imin vs almaghfurlah GD. Apalagi dijadikan justifikasi bahwa kaum nahdliyyin atau para Kyai mendukung AU.

Demikian disampaikan analis politik President University Muhammad AS. Hikam kepada LICOM, hari ini (Selasa, 5/2/2013).

“Kendati dalam tradisi pesantren istilah “kualat” itu dipercaya adanya (khususnya terhadap mereka yang punya maqom sangat terhormat seperti GD), tetapi tidak bisa dipakai sebagai sebuah indikator empiris, apalagi untuk memberikan justifikasi politis,” katanya.

Hikam lebih cenderung mengatakan kalaupun ada kaum nahdliyyin atau para Kyai mendukung AU, barangkali karena mempunyai hubungan keluarga dengan ponpes Krapyak, atau nahdliyyin yang sesama anggota atau alumni HMI. Atau mungkin mereka adalah nahdliyyin kader, pendukung atau simpatisan PD.

“Mengapropriasi istilah ‘kualat’ tentu tidak bisa dilarang, tetapi ia harus diletakan pada sebuah konteks yang tepat, agar tidak malah menciptakan fitnah,” demikian Hikam.

Banyak kiai Nahdlatul Ulama (NU) yang diam-diam mendukung Anas Urbaningrum dalam perseteruannya dengan Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat yang juga Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono.

Kedatangan Sinta Nuriyah, istri tokoh “legendaris” NU Gus Dur (alm), bersama putri (Yenny Wahid) dan menantunya ke rumah Anas (Minggu, 3/3/2013), hanya menjelaskan di mana posisi politik para tokoh NU dalam perseteruan (mantan) Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum dan SBY.

Menurut Jurubicara Presiden era Gus Dur, Adhie Massardi, kepada LICOM, kemarin, ada dua perkara kenapa para tokoh NU, kecuali yang sudah dikooptasi penguasa, mendukung Anas secara moral.

Pertama, tentu saja, karena Anas adalah menantu KH Attabik Ali, putra tokoh besar NU KH Ali Maksum (alm) dari pondok pesantren Al-Munawwir, Krapyak, Jogjakarta. pondok pesantren Al-Munawwir, Krapyak adalah salah satu tonggak (pesantren) penting dalam perkembangan sejarah NU selain Tebu Ireng dan Tambak Beras di Jombang, Jawa Timur.

Alasan kedua, karena para kiai NU diam-diam percaya bahwa perseteruan Anas vs SBY merupakan rangkaian “hukum karma” yang memang akan terjadi. Ini semacam karma atau kualat SBY terhadap Gus Dur.

“Para kiai itu percaya kalau orang berbuat jahat kepada Gus Dur, cepat atau lambat, bakal mendapat malat alias kualat. Nah, di kalangan kiai NU sudah lama beredar kabar bahwa SBY berada di belakang perseteruan Muhaimin Iskandar (Ketum PKB) dan Gus Dur. Bahkan beberapa kiai berpengaruh tahu sebelum Muhaimin menyingkirkan Gus Dur dari PKB, ada rapat-rapat para petinggi PKB dengan orang-orang Istana,” tutur Adhie.

“Makanya, mayoritas kaum Nahdliyin percaya bahwa pertarungan Anas vs SBY sesungguhnya merupakan kualatnya SBY yang mendesain perlawanan Muhaimin Iskandar menyingkirkan Gus Dur dari PKB. Jadi ini faktor kualat,” pungkas Adhie Massardi. Wallahu a’lam bishawab. @ari