Menyimak pergulatan politik bangsa dalam kurun waktu 2 bulan terakhir ini begitu hangat diperbincangkan. Hampir tidak pernah sepi dari hujatan dan pembelaan masing-masing kelompok, bahwa posisinya berada dalam track yang benar.

Posisi kepala negara yang seharusnya berada pada kepentingan rakyatnya secara menyeluruh nyaris kehilangan peran dan fungsinya melihat akar persoalan yang dihadapi dengan kemelut bangsa yang begitu akut.

Dari persoalan konflik politik internal partai, kekisruhan pilkada, penembakan aparat TNI, sampai dinamika internal penegak hukum KPK terkait bocornya sprindik dan dinsinyalir independensi KPK tergadaikan.

Negara pada posisi terpuruk di benak masyarakat dan seakan mengalami ambiguitas peranannya untuk penyelamatan bangsa yang lebih besar.

Di satu sisi, posisi tawar mahasiswa yang selama ini ikut ‘bermain’ mengimbangi kekuatan politik negara seakan-akan hilang ditelan bumi. Hampir di setiap sudut kota riak-riak kecil bermunculan sebagai bentuk awal dari gerakan koreksi arah kebangsaan yang sudah melenceng jauh.

Posisi gerakan mahasiswa yang dikenal independen dengan memakai pendekatan pro rakyat tertindas diharapkan segera bangkit dgn kwalitas gerakan yang mengarah pada soliditas issu perubahan yang berbasis moral force, intelektual force, dan tidak terkontaminasi kelompok kepentingan tertentu.

Disinilah posisi kedua entitas ini bekerja sesuai porsinya, namun sama-sama saling mengoreksi dengan posisi masing-masing. Jika tercipta koreksi silang antar entitas maka harapan stabilitas negara akan dirasakan. Sehingga kekhawatiran akan instabilitas dan distrust negara bisa kita cegah secara bersama-sama.

Pertanyaanya, sudah pada posisi dimana? Kedua entitas ini berjalan berkelindan untuk sama-sama berdiri tegak, dan pada wilayah mana koreksi silang itu di butuhkan oleh keduanya.mari kita sama-sama saling koreksi untuk  kepentingan bangsa yg lebih besar.

Tony Akbar Hasibuan

Kandidat ketua Umum PB HMI 2013-2015