Bisa Anda bayangkan, apa yang terjadi jika media ikut-ikutan berpolitik? mungkin banyak ketimpangan yang terjadi. Maklum para penguasa menjadikan media sebagai kereta politiknya untuk mencari ketenaran dan kehausan akan jabatan, dengan berdalih Indonesia butuh seorang figur, figur yang bagaimana?

Kalau semuanya hanya KORUPSI untuk menumpuk dan mengeruk dimana ada lahan yang bisa dimanfaatkan!! Sudah pasti Indonesia akan semakin cepat menuju kehancuran.

Indonesia krisis kepemimpinan, tak hanya saat menggulingkan rezim Soeharto saja, namun saat ini salah satu partai yang digadang-gadang menjadi partai menuju Indonesia bersih bebas korupsi, Partai Demokrat ternyata kader-kader mudanya melakukan korupsi besar-besaran. Bahkan partai yang dinakhodai Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini diambang kehancuran.

Pilihan Presiden Indonesia 2014 tinggal sebentar lagi, bahkan waktu yang tinggal satu tahun ini terasa sangat pendek dalam hal persiapan. Semua partai yang telah lulus uji kompetensi sudah menyiapkan kapal beserta dengan anak buah kapal (ABK) nya menuju dan menggapai kursi Indonesia 1.

Peran media untuk terus mem back up bakal calon yang diusung terasa sangat pas sebagai kereta ataupun jembatan politik menyuarakan aspirasi dan semua program, namun apa jadinya jika media yang seharusnya berdiri sebagai kontrol sosial terhadap semua kebijkasanaan pemerintah, malah ikut-ikutan bermain politik.

Tentu sudah bisa dipastikan bahwa semua pemberitaan akan bersifat subjektif, karena akan menomor satukan seorang figur saja. Hal ini yang akan menjadi blunder dan menyesatkan masyarakat Indonesia.

Maklum dalam kondisi ekonomi yang sudah carut marut ini, masyarakat Indonesia harus ‘dijejali’ dengan berita yang berat dan sifatnya provokatif. Wah, tentu sangat kasian dan memprihatinkan kita sebagai warga Indonesia.

Tak perlu saya sebut dalam opini saya ini, tentu semua sudah tahu bahwa hampir semua stasiun televisi swasta di negeri ini dikuasai oleh orang-orang yang sangat berkompeten dalam menuju Indonesia 1. Media terasa sudah terkotak-kotak atau bahkan telah di kapling layaknya sebuah tanah oleh salah satu parpol terbesar di Indonesia.

Tak hanya stasiun televisi saja, media cetak pun sudah terkena virus arus politik Indonesia, bagaimana dengan nasib media on line di Indonesia saat ini, apakah harus ikut-ikutan berpolitik?

Mereka (para penguasa media) menggunakan media sebagai alat untuk membangun pencitraan dan kepopuleran pribadi semata. Tanpa ada rasa iri hati dan tak mengurangi rasa hormat saya kepada mereka (para penguasa media), tapi secara tak sengaja sudah menggunakan media sebagai alat untuk membangun pencitraan.

Dan ini sangat disayangkan, mengapa mereka mau terjun di panggung politik Indonesia yang bisa dikatakan ‘kotor’. Saya katakan ‘kotor’ karena Indonesia masuk dalam jajaran TOP korupsi dunia, dan semua dilakukan oleh orang-orang yang selama ini mengatasnamakan seorang figur yang bisa membawa Indonesia menuju bangsa yang bermartabat dan bebas dari korupsi.

Kalau ini terjadi lagi di Pilpres 2014, aduh pusing Mas Bro saya memikirkannnya.
Layaknya lagu dari grup band terkenal di Indonesia Armada dengan tembangnya ‘Mau Dibawa Kemana’ terasa pas sekali untuk menggambarkan kondisi panggung politik Indonesia. Apa semua itu harus terjadi lagi di Pilpres 2014? Tentu saja tidak.

Masyarakat Indonesia hendaknya bisa lebih pintar lagi untuk memilih seorang figur yang bisa menyelamatkan negeri ini dari ambang kehancuran. Sudah banyak sekali kebobrokan yang terjadi di Indonesia, dan anehnya ini terjadi di segala bidang. Tak hanya bidang ekonomi saja, di sektor Hukum beserta dengan aparaturnya belum bisa diandalkan untuk mengupas tuntas semua ketidak adilan yang terjadi di negeri tercinta.