LENSAINDONESIA.COM: Ada sesat nalar yang dikemukakan Prabowo Subianto ketika mengomentari gerakan reformasi 98. Sesat nalar itu terlihat dari pernyataanya yang kontradiktif.

Demikian disampaikan sosiolog Universitas Negeri Jakarta, Ubedilah Badrun dalam keterangannya kepada LICOM, Rabu (13/3/2013).

Prabowo sempat menyatakan, jangan dikira bahwa reformasi 98 terjadi karena gerakan mahasiswa, apalagi oleh Amien Rais Cs. Menurut Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra tersebut, hal ini terlalu naif itu.

Ada banyak faktor yang menyebabkan reformasi dan ada kekuatan besar yang bekerja. Kata Prabowo, tidak bisa menyederhanakan persoalan, seolah ada gerakan mahasiswa yang berhasil menurunkan Pak Harto.

“Sesat nalar kontradiktifnya terlihat pada kalimat Prabowo; ‘Jangan dikira bahwa reformasi 98 oleh gerakan mahasiswa, apalagi oleh Amien Rais. Terlalu naif itu. Ada kekuatan besar yang bekerja’,” kata Ubed, sapaannya.

Dalam perspektif sosiologi politik, imbuh Ubed, sesungguhnya tidak ada gejala sosial atau gejala politik yang tunggal. Oleh karena itu tidak mungkin’ kekuatan besar’ yang dimaksud Prabowo itu mampu menjatuhkan rezim Soeharto tanpa faktor massifnya gerakan mahasiswa 98.

“Sesat nalar Prabowo berikutnya ada pada kalimat ‘Kita tidak bisa menyederhanakan persoalan seolah ada gerakan mahasiswa yang berhasil menurunkan Pak Harto. Banyak sekali faktor’,” tambah Ubed.

Sesat nalar tersebut, tambahnya, terlihat pada kontradiksi didalamnya. Satu sisi Prabowo meniadakan peran mahasiswa dalam menjatuhkan Soeharto, dan disisi lain Prabowo mengakui banyak sekali faktornya.

“Bukankah mahasiswa adalah salah satu yang paling menentukan diantara yang disebut kalimat terakhir Prabowo yang dia akui,” sambungnya.

Selain sesat nalar, Prabowo nampaknya ingin melakukan semacam distorsi sejarah atau bahkan penyesatan sejarah sekaligus pembersihan sejarah dirinya seolah ia juga punya peran penting di tahun 98. Ini upaya branding image baru Prabowo untuk menutupi kejahatan masa lalunya. @ari