LENSAINDONESIA.COM: Petinggi DPC Demokrat Surabaya diduga jual beli nomor urut. Terkait hal ini, Pimpinan DPC Partai Demokrat Surabaya dikabarkan dipanggil DPP Partai Demokrat, untuk dimintai klarifikasi seputar jual beli nomor urut dalam pencalegan di DPC Partai Demorkat Surabaya.

Kabar yang berhembus, jual beli itu hanya untuk nomor urut satu dan dua di tiap daerah pemilihan (Dapil) di Kota Surabaya. Kabarnya hanya Ketua DPC Partai Demokrat Surabaya Dadik Risdariyanto dan Sekretaris DPC Muzayin saja yang dipanggil. Karena disinyalir, dua pentolan DPC inilah yang melakukan praktek tersebut.

Berapa nilai satu kursi itu, masih tak diketahui. Informasinya, nilai satu kursi itu seharga Rp50 juta. Di Surabaya ada lima Dapil dan jika tiap dapil 2 kursi yang diperjualbelikan, maka nilai seluruh Dapil itu mencapai Rp500 juta.

Sementara, Muzayin saat dikonfirmasi terkait masalah pemanggilannya itu, membantah jika dirinya dituding melakukan jual beli kursi tiap Dapil.

“Yang dipanggil dan sudah memenuhi undangan itu adalah Pak Dadik (Ketua DPC Demokrat Surabaya, red). Tapi pemanggilan itu sama sekali bukan masalah jual beli nomor urut, itu tidak benar. DPC hanya ditanya masalah persiapan Pemilu 2014, soal DCS sampai sejauh mana persiapan para caleg,” tegas Muzayin.

Muzayin juga menegaskan, jika benar ada jual beli nomor urut pencalegan dan tudingan itu diarahkan pada dirinya dan Dadik, tentu dua orang ini sudah kaya.

“Kalau kami melakukan jual beli nomor urut, kami pasti sudah kaya mas,” sanggah Muzayin.

Menurut dia, pencalegan dengan penempatan nomor urut di DCS Demokrat Surabaya, sudah sesuai mekanisme. Penempatan nomor urut itu sudah berdasar ranking tiap caleg.

“Ngapain jual beli nomor urut. Kita sudah nilai berdasarkan skoring yang dilakukan tim. Kalau ada suara miring tentunya itu dari pihak yang tidak puas,” ungkapnya.@iwan_christiono