Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
HEADLINE DEMOKRASI

Irjen Djoko Susilo dan peserta tender Simulator SIM tidak saling kenal 

LENSAINDONESIA.COM: Terdakwa korupsi Driving Simulator SIM, Irjen Djoko Susilo, mengaku tak kenal dengan para direktur perusahaan yang menjadi peserta lelang proyek yang membuat dirinya mendekam ke penjara itu.

“Tidak ada pertanyaan, tanggapan. Saya tidak kenal saksi, dan tidak ada kaitannya dengan keterangan para saksi,” kata Djoko pada persidangan lanjutan kasus Driving Simulator SIM di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Selasa (04/06/2013).

Peserta lelang yang dihadirkan pada persidangan itu antara lain PT Bentina Agung, PT Digo Mitra Slogan, PT Kolam Intan Prima. Dalam keterangannya, Direktur PT Bentina Agung, Anggiat T Hutabarat mengaku tak mengerti dengan kasus Simulator SIM.

“Saya tidak mengerti proses lelang mengenai Simulator. PT saya lima tahun tak punya aktivitas. Yang menjalankan menantu saya, Eko Supriyadi,” kata Anggiat.

“Namanya menantu kita kasi kesempatan untuk maju,” timpa Anggiat menjawab Majelis Hakim yang diketuai Suhartoyo.

Ketua Tim Jaksa Penuntut Umum Komisi Pemberantasan Korupsi, KMS Rony, memertanyakan apakah saksi Anggiat pernah mengikuti lelang.  Anggiat menjawab, untuk soal itu menantunya yang tahu. “Saya tidak tahu. Menantu saya yang tahu,” ujarnya.

Direktur PT Digo Mitra Slogan, Jefry Siolagan, mengaku awalnya ada rekannya, Jumadi yang meminjam dokumen perusahaannya. “Beliau minta mau dipakai (ikut lelang) di Polri. Dipakai untuk buat lelang. Kebetulan (Jumadi) teman,” katanya.

Ia mengatakan, perusahaannya hanya dipakai sebagai pembanding. “Sebenarnya komitmen hanya Rp 1 juta. Karena tidak tahu selanjutnya perkembangannya, saya juga belum terima,” jelasnya.

Dia pun mengaku belum ada menandatangani apa-apa. “Perusahaan saya dipinjam Jumadi pada 2010-2011. Pada 2010 jadi pemenang lelang,” timpalnya.

Direktur PT Kolam Intan Prima, Wilson Hutajulu, menjelaskan, awalnya Jumadi datang ke kantornya. Dia mengaku memang kebetulan mengenal Jumadi pada 2011. Saat Jumadi ke kantornya, Wilson mengaku tidak berada di tempat.

Baca Juga:  IFC tawarkan modal tak terbatas untuk industri hijau Indonesia

“Memang diberitahu ke saya ambil CV perusahaan. Kita juga tidak tahu, karena tidak ada kabar selanjutnya,” katanya.

Ia pun mengaku tidak pernah memberi surat kuasa khusus dan menandatangani dokumen lelang. Wilson mengatakan, pernah menitip biaya fotocopy Rp 800 ribu, saat datang ke kantornya. “Yang menerima kebetulan di kantor istri saya,” katanya.

Penasehat Hukum Djoko, Juniver Girsang, memeranyakan apakah  para saksi mengenal Jumadi. Anggiat mengaku tak kenal. Jefri dan Wilson mengaku kenal pada 2011.

Namun, Jefri dan Wilson tak pernah kenal dengan Bambang Sukotjo. Para saksi pun mengaku tidak pernah kenal dengan Djoko Susilo.@aligarut1