Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
Birokrasi

Konvensi Capres taktik Demokrat tidak mencalonkan kader sendiri? 

LENSAINDONESIA.COM: Pengamat politik dari Universitas Indonesia (UI), Boni Hargens melihat bukanlah satu hal yang aneh jika Partai Demokrat  masih tetap ngotot mempertahankan presidential threshold sebanyak 20 persen. Hal tersebut disinyalir ada kecenderungan partainya tidak akan mengusung calon presiden dari partainya sendiri.

Pasalnya, dalam logika awam, PD yang dipimpin Ketua Umumnya Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), seharusnya justru mendukung penurunan PT menjadi 3,5 persen selagi masih berkuasa. Hal ini sama artinya setiap partai yang lolos ke Senayan bisa mengajukan capresnya sendiri.

“Ya, secara logikanya sih, kalau memang PD mau mengusung Capres sendiri dengan menggelar konvensi dan di tengah keterpurukan saat ini. Harusnya, SBY sebagai ketua umum memerintahkan agar PD menurunkan  presidential threshold agar bisa mengajukan calon presiden sendiri karena tidak mungkin PD meraih dukungan 20 persen suara. Tapi, saya melihat justru di sinilah taktik SBY yang sebenarnya memang tidak mau mengajukan calon presiden sendiri,” ujar Boni di Jakarta, Selasa (04/06/2013)).

Menurut Boni, sikap SBY ini dapat  cerminan dari rasa takut SBY akan nasib pribadi dan keluarganya pasca lengser menjadi presiden 2014 nanti. SBY ingin PD tetap berkoalisi, terutama dengan partai yang memiliki calon presiden yang diyakininya bisa memenangkan Pilpres dan posisinya kuat.

Diprediksi, PD akan berupaya menyambung tali persahabatan dengan partai-partai lain dan tidak akan mungkin mengajukan capres sendiri yang artinya harus bertarug dengan partai lain yang jika dijalankan diyakininya tidak akan juga dimenangkannya.

“Dari pada bertarung lalu kalah, lebih baik dia jalin persahabatan dan mencari sekutu.Untuk itu, saya kira SBY akan berusaha kuat untuk bisa meyakinkan Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo Subianto yang telah ditetapkan partainya untuk maju sebagai capres dan salah satu capres yang memiliki kans untuk menang dan diyakininya bisa melindungi dirinya dan keluarganya pasca 2014,” terangnya.

Baca Juga:  Dua ratus ribu lebih jemaat Gereja Tiberias Indonesia rayakan Natal di GBK, hari ini

Selain itu, lanjutnya, PD terlihat kurang percaya diri melihat situasi saat ini terkait elektabilitasnya yang semakin turun. “SBY nampaknya yakin pasca 2014 dirinya  tidak lagi memiliki power untuk melakukan itu,” tambahnya.

Boni mengatakan, SBY melakukan ini karena tidak yakin dengan kemampuan PD yang semakin hari semakin turun elaktabilitasnya. Alhasil SBY ragu kekuatan PD pasca 2014 diyakini tidak akan mampu melindunginya. Tidak hanya itu saja, SBY juga yakin bahwa tidak ada satupun kader PD yang loyal pada dirinya dan keluarganya.

“Ini pemikiran yang logis dari SBY karena selagi berkuasa saja dia sadar banyak anak buahnya tidak patuh padanya dan melawan meninggalkan dirinya,apalagi setelah tidak jadi presiden, makin banyak yang akan kabur darinya,” imbuhnya.

Untuk itu, Boni pun menilai bahwa konvensi PD tidak akan menghasilkan capres yang akan benar-benar didukung oleh SBY dan PD.

“Kalau memang dia serius menggarap konvensi seharusnya dia perintahkan PD berkoalisi dengan partai-partai kecil untuk menurunkan presidential threshold demi mengalahkan keinginan PDIP dan Golkar yang tetap ngotot 20 persen. PD pasti akan didukung oleh partai-partai lainnya untuk merubah UU Pilpres tersebut di DPR untuk apa menggelar konvensi  kalau syaratnya terlalu tinggi dan PD tidak bisa mengusungnya. Inilah bukti taktik SBY,” jelas Boni .

Terkait Konvensi Demokrat yang akan menjaring capres dari tokoh-tokoh nasiona, itu juga hanyalah alat yang digunakan SBY untuk mencari figur yang populer dan kuat dari aspek keuangannya sehingga bisa ditawar-tawarkan SBY kepada calon presiden lainnya.

“SBY akan memperdagangkan capres hasil  konvensi ini. Konvensi ini juga tidak akan berjalan demokratis karena konvensi tidak ubahnya seperti tender import daging di Kementan yang melibatkan kader-kader PKS yang semuanya sudah diatur siapa saja pesertanya, siapa pendampingnya dan siapa yang akan memenangkannya. Dia akan mencari sosok yang kaya yang bisa diperasnya,” pungkasnya. @yuanto

Baca Juga:  Bumikan Pancasila ke milenial, Presiden: Enggak apa nebeng Didi Kempot dan Sobat Ambyar “Sad Boy/Girl “