Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
HEADLINE UTAMA

Gus Ali : Tunggu pengumunan resmi dari pemerintah 

LENSAINDONESIA.COM: Mengantisipasi munculnya pelbagai kontroversi yang berpotensi menimbulkan kesenjangan di kalangan umat, berkenaan dengan penetapan 1 Ramadhan 1434 Hijriyah sebagai awal pelaksanaan ibadah puasa tahun ini, pemangku Pondok Pesantren Bumi Sholawat Tulangan, Sidoarjo, Jawa Timur, KH Agoes Ali Mashuri menghimbau umat Islam untuk menunggu pengumuman resmi dari pemerintah.

Penegasan itu disampaikan Gus Ali, sapaan khas KH Ali Mashuri, di depan santri dan warga dari berbagai kota dalam acara haul pendiri dan masayih Ponpes Bumi Sholawat belum lama.

“Seyogyanya kita tunggu saja pengumuman resmi dari pemerintah,” tegas salah satu kiai sepuh di Jawa Timur ini.

Menurut dia, untuk menetapkan jatuhnya satu ramadhan pada prinsipnya pemerintah sangat hati-hati. Seperti yang sudah-sudah, Kementerian Agama selalu mengundang sejumlah organisasi Islam untuk mendengarkan laporan terkait penghitungan atau rukyat di berbagai tempat. Dari hasil tersebut, pemerintah kemudian mencocokkan secara ilmiah melalui hisab atau penghitungan. Dari situ lah Pemerintah akan memutuskan kapan jatuhnya 1 ramadhan itu.

“Istilahnya, ketika sudah melihat bulan maka kita boleh mulai melaksanakan puasa. Begitu pula ketika sudah melihat bulan, maka kita harus mengakhiri puasa.” kata Gus Ali.

Sebagaimana diketahui, metode hisab adalah perhitungan secara matematis dan astronomis untuk menentukan posisi bulan dalam menentukan dimulainya awal bulan pada kalender hijriyah. Sementara rukyat adalah aktivitas mengamati visibilitas hilal, yakni penampakan bulan sabit yang nampak pertama kali setelah terjadinya ijtimak (konjungsi).

Rukyat dapat dilakukan dengan mata telanjang atau dengan alat bantu optik seperti teleskop. Rukyat dilakukan setelah matahari terbenam. Hilal hanya tampak setelah matahari terbenam (maghrib), karena intensitas cahaya hilal sangat redup dibanding dengan cahaya Matahari, serta ukurannya sangat tipis. Apabila hilal terlihat, maka pada petang (maghrib) waktu setempat telah memasuki bulan (kalender) baru hijriyah. Apabila hilal tidak terlihat maka awal bulan ditetapkan mulai maghrib hari berikutnya.

Baca Juga:  Polrestabes Surabaya kembangkan penyelidikan kasus penyelundupan 4,7 kg sabu

Perlu diketahui bahwa dalam kalender Hijriyah, sebuah hari diawali sejak terbenamnya matahari waktu setempat, bukan saat tengah malam. Sementara penentuan awal bulan (kalender) tergantung pada penampakan (visibilitas) bulan. Karena itu, satu bulan kalender Hijriyah dapat berumur 29 atau 30 hari.

Hisab sendiri secara harfiah adalah perhitungan. Dalam dunia Islam istilah hisab sering digunakan dalam ilmu falak (astronomi) untuk memperkirakan posisi matahari dan bulan terhadap bumi. Posisi matahari menjadi penting karena menjadi patokan umat Islam dalam menentukan masuknya waktu salat. Sementara posisi bulan diperkirakan untuk mengetahui terjadinya hilal sebagai penanda masuknya periode bulan baru dalam kalender hijriyah. Hal ini penting terutama untuk menentukan awal ramadhan saat umat muslim mulai berpuasa, awal syawal (Idul Fithri), serta awal Dzulhijjah saat jamaah haji wukuf di Arafah (9 Dzulhijjah) dan Idul Adha (10 Dzulhijjah). @Jani*