LENSAINDONESIA.COM: Perkembangan bahan pokok di pasar tradisional Surabaya dalam seminggu belakangan mengalami ketidakstabilan harga. Padahal volume pasokan dan permintan konsumen relatif tetap.

Besarnya pasokan dan keseimbangan permintaan, tampaknya tidak bisa dijadikan patokan untuk menentukan naik turunnya harga kebutuhan pokok. Perubahan harga komoditas pokok yang sebelumnya melangit, secara tiba-tiba bisa anjlok secara signifikan.

Komoditi yang paling tak stabil adalah cabai dan daging. Keduanya sempat mencuri perhatian konsumen, karena kenaikan harganya jauh dari kewajaran. Belum lagi, kebutuhan pokok lain yang spontan ikut mengiringi perubahan harga di pasaran.

Memantau perkembangan menjelang Lebaran ini, komoditas kebutuhan pokok di beberapa pasar Surabaya banyak mengalami perubahan harga. Selain daging dan cabai, baha pokok lainnya seperti minyak goreng, gula dan beras, dalam minggu ketiga Bulan Juli ini, harganya terus fluktuatif.

Sementara, telur ayam broiler/ras mengalami penurunan dari harga Rp 19.333/kg menjadi Rp 19.167/kg atau sebesar 0,87%. Sedangkan, kenaikan harga tertinggi terjadi pada komoditi pokok lainnya seperti tomat yang melonjak sekitar 25,00% dari harga Rp 9.000/kg berubah Rp 12.000/kg.

Begitu juga dengan komoditas bawang merah juga ikut naik harganya, meski hanya berkisar 1,96 persen. Namun harga ini masih tergolong tinggi. Harga bawang merah yang sebelumnya 50.ribu rupiah per koilogram naik menjadi 51 ribu rupiah per kilogram.

Hal yang sama juga terjadi pada komoditi cabai merah kecil atau cabai rawit yang cenderung menurun dalam beberapa hari terakhir ini, dari 86.667 rupiah per kilogram menjadi  65 ribu rupiah per kiklogram,  atau turun 33,33 persen.

Padahal, fenomena harga cabai rawit di pasar, Keputran, Wonokromo dan Pabean masih terbilang mahal. Meski tidak seperti tiga hari sebelumnya, yang mencapai 130.ribu per kilogram. Kisaran harganya di pasar-pasar tersebut masih pada posisi antara 85 hingga 90 ribu rupiah per kilogram.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jatim, Budi Setiawan mengklaim, harga berbagai komoditas pangan di Jatim mulai menurun. Catatan Disperindag Jatim mengungkap, harga cabai akhir pekan lalu sudah di kisaran  44 ribu rupiah per kilogram, sebelumnya mencapai 75 ribu rupiah per kilogram.

Budi menambahkan, khusus beras, gula, minyak goreng dan terigu tidak terjadi gejolak yang mengkhawatirkan. Sebab, pihaknya telah mengantisipasi sejak awal, dengan upaya Operasi Pasar (OP) di seluruh kabupaten dan kota se-Jatim mulai 15 Mei lalau, hingga 18 Agustus mendatang.

“Kami juga memberikan subsidi biaya distribusi untuk keempat komoditas itu,” terangnya.

Melalui operasi pasar tersebut, Budi setiawan mengaku mampu menekan harga gula menjadi 10 ribu rupiah per kilogram, dari harga sebelumnya 11.500 rupiah. Begitu pula harga tepung terigu, turun dari 7.500 menjadi 6.500 rupiah. Minyak goreng juga ikut turun menjadi 7.500 rupiah dari kisaran 10 hingga 11 ribu per kemasan.

“Operasi pasar juga mampu menurunkan harga beras premium dari 7.600 rupiah menjadi 7.350 rupiah per kilogram,” kata Budi saat dikonfirmasi LICOM.

Sebagai salah satu provinsi pemasok kebutuhan pangan terbesar di Indonesia, Jatim sebenarnya memiliki ketahanan yang lebih dibanding provinsi lain. Namun, Budi tidak mengelak, jika harga komoditi pokok di Jatim meroket karena sebagian harus dipasok dari luar Jatim.

“Secara umum, komoditas pangan di Jatim, berangsur turun harganya. Tapi, harga komoditas ini akan kembali naik pada minggu ketiga karena mendekati lebaran. Yang pasti, stok pangan di Jatim relatif aman dan cukup untuk waktu minimal dua hingga tiga bulan kedepan. Apalagi, gula, stoknya bisa terpenuhi hingga setahun,” tandasnya.

Budi juga mengakui, harga daging segar, khususnya sapi, di pasaran masih terbilang mahal. Bahkan, sempat beredar kabar, harga daging sapi di pasaran mencapai 100 ribu rupiah lebih per kilogramnya.

“Hanya daging sapi yang masih tinggi harganya. Ini karena suplainya kurang, tapi permintaanya terus meningkat, sehingga harus impor,” jelasnya.