LENSAINDONESIA.COM: Dalam Tenun Ikat Sumba Timur, corak dan warna tidaklah hanya untuk keindahan visual semata, namun kandungan nilai filosofisnya mencerminkan keseharian hidup masyarakat Sumba Timur.

Ragam corak dan warna yang terdapat dalam sebuah kain merupakan sebuah narasi singkat, yang menceritakan budaya dari sebuah suku atau daerah tertentu. Tak terkecuali Tenun Ikat Sumba Timur.

Untuk lebih mengenal makna dan nilai spiritual motif yang terekam dalam Tenun Ikat Sumba Timur, Galeri House of Sampoerna menggelar pameran Tenun Ikat bertajuk “Exotica of East Sumba” mulai tanggal 26 Juli.

Dari 50 lembar kain yang dipamerkan, nampak sekali keunggulan pada motifnya. Selain itu juga pilihan warnanya sangat menonjol. Tak ketinggalan pula kekuatan ikatan tenunya, yang menjadi ciri khas.

Sebagai contoh, tenun Lau Pahudu dengan motif naga. Kemunculan motif naga pada tenun yang dibuat pada tahun 1970 ini, karena pengaruh budaya China yang masuk ke Indonesia. Begitupula dengan Hinggi Kombu Burung Merak Satu Arah, merupakan tenunan langka yang menggunakan teknik satu arah, serta perpaduan warna yang rumit antara biru dan merah.

Motif bercorak burung merak searah dan corak burung pada tenun ini, menggambarkan keanggunan dan keindahan. Adapun corak yang banyak muncul pada tenun ikat Sumba Timur menggunakan figur manusia, pohon, tengkorak dan fauna seperti kuda, rusa, udang, naga, dan singa.

Setiap simbol pada tenun ikat memiliki makna sendiri. Sehingga, selain dipergunakan sebagai pakaian sehari – hari, juga dipergunakan sebagai kelengkapan upacara adat. Kerap pula digunakan sebagai alat tukar ekonomi, bahkan menjadi cermin strata sosial masyarakat dan harta keluarga yang bernilai tinggi.

Pada perkembangannya, tenun ikat Sumba Timur menjadi komoditi berkualitas, dengan jumlah terbatas. Mengingat proses pembuatannya yang lama dan bahan alamiahnya. Seperti abu karang laut, kayu kuning, (Daun/akar/kulit) mengkudu, daun tarum, kunyit, dan gambir.

“Banyak jenis tenun ikat yang memiliki beberapa warna dalam satu helai kain. Itu berarti proses pewarnaannya lebih lama karena dilakukan tahap demi tahap, sesuai jumlah warnanya,” terang Swandajani, koordinator pameran “Exotica of East Sumba”.

Tenun yang sudah diwarnai lantas dikeringkan selama satu minggu, setiap warna. Total waktu yang diperlukan untuk membuat sebuah tenun ikat Sumba Timur, kurang lebih delapan bulan.

“Inilah yang berdampak pada tingginya harga jual di pasaran. Sebagai salah satu warisan budaya Indonesia, tenun ikat Sumba Timur merupakan karya anak bangsa yang layak untuk dilestarikan,” pungkasnya.

Melalui pameran ini, Swandajani berharap tenun ikat Sumba Timur lebih dikenal dan mendapat apreasiasi yang baik dari masyarakat luas sehingga mendorong pengrajin tenun untuk menjadi lebih kreatif dan produktif dalam berkarya.@dony