LENSAINDONESIA.COM: Masih adanya warga Kota Surabaya yang belum memiliki akta nikah sehingga tidak bisa melakukan pengurusan akta kelahiran putra-putri mereka, disikapi serius Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya. Solusinya adalah dengan memfasilitasi warga yang pernikahannya belum tercatat di pencatatan administrasi pemerintahan, untuk mendapatkan buku akta pernikahan.

Mereka diikut sertakan dalam sidang istbat (peresmian) nikah di Pengadilan Agama Surabaya, Jumat (26/7/2013). Agenda sidang isbat nikah ini merupakan hasil sinergi antara Pemkot Surabaya dengan Pengadilan Agama (PA) Surabaya.

Sebanyak 30 pasangan suami-istri (Pasutri) dari Kelurahan Ujung di Kecamatan Semampir yang diikutsertakan dalam sidang isbat nikah kali ini. Tiap pasangan suami-istri ini wajib didampingi dua saksi dan satu wali nikah. Mereka diberangkatkan dari kantor Kecamatan Semampir ke kantor Pengadilan Agama Surabaya di Ketintang Madya dengan menggunakan lima bus Pemkot Surabaya.

Kasi Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat Kecamatan Semampir, Sri Nur Hidayatin Nikmah, mengatakan warga yang mengikuti sidang isbat nikah ini merupakan warga yang dulunya menikah secara siri sehingga belum tercatat dalam pencatatan administrasi pemerintahan. Mayoritas dari mereka menganggap nikah siri yang penting sudah sah menurut agama.

“Mereka beranggapan yang penting sudah sah, tetapi kewajiban pencatatan administrasi pemerintahan tidak diindahkan. Padahal sekarang ketentuannya untuk mendaftar sekolah harus punya akte kelahiran. Kalau tidak ada akte kelahiran kan tidak bisa, yang kasihan kan putra-putrinya. Makanya sekarang pernikahan mereka disahkan lagi supaya data anak-anaknya bisa dimasukkan dalam akte keluarga,” jelas Sri Nur Hidayatin.

Dijelaskan perempuan berkacamata ini, sidang istbat nikah ini bermula dari kunjungan Walikota Surabaya, Tri Rismaharini, ke Kecamatan Semampir awal tahun lalu. Ketika berinteraksi dengan warga, walikota lantas bertanya siapa yang belum memiliki akta nikah, akta kelahiran dan juga Kartu Susunan Keluarga (KSK). Ternyata mayoritas warga mengangkat tangannya tanda belum memilikinya.

Warga itu kemudian didata. Selanjutnya data diolah dan dirapatkan bersama Asisten IV Sekkota dengan melibatkan Kantor Urusan Agama (KUA) termasuk Pengadilan Agama. Dari rapat itu disepakati yang diurusi pertama adalah akta nikah. Hasil rapat kemudian ditindaklanjuti di tingkat kecamatan. Hasilnya, digelarlah sidang isbat nikah periode pertama pada Maret 2013 lalu.

Sidang isbat nikah periode pertama diikuti oleh 35 pasangan suami-istri dari Kecamatan Semampir. Mereka kini pun sudah memiliki buku nikah. Agenda sidang isbat nikah yang digelar pada bulan Juli ini merupakan periode yang kedua kalinya bagi warga disana.@iwan_christiono