LENSAINDONESIA.COM:Setelah sukses dengan pameran tunggalnya bertema Ultimate City tahun lalu, Yarno kembali sukses pikat kolektor seni pada pameran tunggal Reborn yang diusung Galeri Apik di Bazaar Art Jakarta (BAJ) 2013, Hotel Ritz Carlton,Jakarta, belum lama ini.

Bersaing dengan seniman dari galeri lain di BAJ, tak mampu membendung keinginan kolektor benda seni untuk memiliki 1 dari 9 karya seniman kelahiran Pagar Alam,Sumatera Selatan itu.

”Waktu pameran tunggal Yarno tahun lalu, karya Yarno masih membutuhkan waktu 6 bulan sampai akhirnya tuntas terbeli kolektor seni. Tahun ini di 4 hari pelaksanaan BAJ, galeri kami berhasil menjual habis 9 karya Yarno. Luar biasa,” kata Direktur Galeri Apik Rahmat di Jakarta,dalam siaran persnya, Jumat (2/7/13).

Itu menandakan, bahwa kolektor seni, baik dari Indonesia maupun mancanegara melihat potensi yang besar dalam karya Yarno. Karya lukis Yarno sesungguhnya simpel, namun eye catching dengan warna-warna merah bata, fuchia, abu-abu, dan merah yang kalaupun
dilihat oleh masyarakat awam sekalipun mampu menjadi magnet.

”Awalnya, saya juga tidak menyangka public seni bisa menerima karya Yarno begitu cepat. Pada Maret 2010, karya Yarno masih Rp9 jutaan. Lalu naik terus di akhir 2011 menjadi Rp 18 juta. Di pertengahan 2012 sudah naik lagi menjadi Rp 25 juta. Dan minggu lalu, karya Yarno sudah laku di kolektor seni dengan harga Rp 35-50 jutaan,”
ujar Rahmat.

Menurutnya, sepanjang tour dengan artinya selama ini, tidak banyak seniman yang bisa melaju sedemikian pesat seperti Yarno. Wajar saja, kalau karya Yarno disambut hangat kolektor seni di London (Inggris), Seoul (Korea), Jepang, Australia, Singapura,dan Tiongkok.

Rahmat memuji, pelukis yang pernah mendapat penghargaan The Best Watercolor ISI Jogjakarta (1995) dan Minister of Tourism Award (1998) itu memiliki potensi untuk bisa mendunia. Seperti halnya seniman-seniman tanah air pendahulunya yang bisa go global dengan karya seni hasil karya anak bangsa.

Pesan apa sebenarnya yang mau disampaikan pelukis jebolan ISI Jogjakarta itu kepada pecinta seni? Lukisannya banyak dianggap pecinta seni unik karena objek gambar binatang yang ada pada karya lukis Yarno bukannya berada di tengah pepohonan hijau,tapi diantara pipa-pipa besi dan cerobong asap sebagai simbol industrialisasi.

Dia juga menggambarkan bagaimana ikan-ikan di sungai mencoba bertahan hidup diantara lautan sampah. Itu adalah gambaran sekilas sejumlah karya pelukis surealis itu dalam menunjukkan kegelisahannya melihat ekosistem alam yang semakin tidak seimbang.

Pengalaman hidup di masa kecil dengan kerimbunan pohon dan binatang liar disekitarnya membuat Yarno kangen. Dia kini mengaku sulit melihat rimbunnya pohon dan berbagai jenis binatang hutan, karena kian parahnya kerusakan alam.

Pesatnya industrialisasi dan urbanisasi, membuat manusia lupa untuk ”bersahabat”lagi dengan alam.”Lukisan saya memang bermakna kritik sosial. Tujuannya untuk keseimbangan kita sendiri. Masalah global warming yang saat ini ada bukan lagi menjadi isu,melainkan ancaman, ” kritis Yarno. @aguslensa.