LENSAINDONESIA.COM: Sekitar 3.000 lebih undangan yang terdiri dari pengusaha di Jawa Timur menghadiri acara silaturahmi dan halal bihalal para pengusaha Jawa Timur dengan Dr H Soekarwo dan Drs H Saifullah Yusuf, selaku Dewan Pembina Yayasan Kadin (Kamar Dagang dan Industri) Institut yang berlangsung di Graha Kadin Jatim, 26 Agustus 2013.

Pada kesempatan yang sama, La Nyalla M Mattalitti selaku Ketua Kadin Jatim, menyebut berdasarkan data yang terhimpun, ekonomi Jatim semakin membaik dari tahun ke tahun. “Kadin merasakan ini betul-betul positif. Bahkan krisis global saat ini cenderung lebih stabil. Sekitar 7,2% melampaui nasional yang pertumbuhan ekonominya hanya sebesar 6%,” tandasnya kepada LICOM saat ditemui di Graha Kadin Jatim, semalam.

Hal senada juga diungkapkan Gubernur Jatim Soekarwo. Menurutnya, upaya untuk merevisi target pertumbuhan ekonomi Jatim 2013 itu akan dilakukannya agar perekonomian provinsi ini tetap baik pada masa mendatang. Apalagi, selama ini Jatim masih memiliki potensi ekonomi domestik yang sangat kuat.

“Situasi itu, tampak dari kinerja perdagangan Jatim terutama nilai ekspor antarpulau yang kini mampu mencapai Rp 350 triliun atau meningkat 15 persen dibandingkan tahun lalu. Prestasi itu sekaligus membuktikan keberadaan 24 kantor perwakilan dagang Jatim yang disebar di berbagai provinsi di Tanah Air sangat bermanfaat bagi perekonomian wilayah ini,” ujarnya.

Mengenai langkah lain menghadapi dampak pelemahan rupiah, Soekarwo berharap Bank Indonesia dapat menjaga agar inflasi Jatim bisa berada di posisi yang ideal. Selain itu, Badan Pusat Statistik (BPS) juga harus rutin mengukur perkembangan harga jual barang di pasar Jatim. “Idealnya inflasi bisa seimbang terhadap harga jual barang,” ingatnya.

Menurutnya, apabila pelemahan rupiah kian berlanjut, tingkat inflasi Jatim bisa bergerak menuju angka 6-7 persen pada tahun ini. “Kondisi itu yang kami khawatirkan. Jika terealisasi, artinya harga jual barang di Jatim semakin tak terkendali,” katanya.

Karena itulah Soekarwo berharap bagi kalangan pengusaha dan masyarakat Jatim yang memiliki dana berlebih maka ada baiknya mereka mengurangi penarikan uang tunai di bank. “Khusus mereka yang mempunyai investasi berupa dolar AS di bank, kami meminta mereka mulai membatasi penukaran uangnya,” tutupnya. @dony