Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
HEADLINE JATIM RAYA

Penyidik Polres Mojokerto dilaporkan Propam Polda Jatim 

LENSAINDONESIA.COM: Diduga merekayasa Berita Acara Pemeriksaan (BAP) kasus penganiayaan, penyidik Sat Reskrim Polres Mojokerto dilaporkan ke Propam Polda Jatim. Penyidik berinisial AF ini dituding telah melakukan rekayasa BAP terhadap Ismail, seorang guru ngaji di kawasan Mojosari.

Waki`ah, istri Ismail, warga Sawahan Gang VII, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto yang menjadi pelapor, menganggap keterangan yang telah diberikan saat proses penyidikan berbeda dengan BAP. “Banyak yang janggal. Dan sangat tidak sesuai dengan fakta,” terangnya didampingi didampingi kuasa hukum, Ahmad Lutfi, Sabtu (31/8/2013).

Menurut perempuan berjilbab ini, suaminya Ismail, tak pernah melakukan penganiayaan seperti yang tercantum dalam BAP kepolisian. Saat ini, Ismail sendiri telah ditahan Kejaksaan Negeri (kejari) Mojokerto dan sedang menjalani proses persidangan di PN Mojokerto.

“Suami saya tak pernah melakukan penganiayaan. Itu rekasaya saja dalam BAP. Dalam BAP dijelaskan, suami saya telah menampar tetangga sendiri Muhammad Rafi (14). Itu tidak benar,” tegasnya.

Wakiiah menambahkan, saat diperiksa, suaminya tak pernah mengaku kalau pernah menampar tetangganya. Ternyata dalam BAP, ditulis mengaku telah menampar. “Ini jelas rekayasa,” imbuhnya.

Kuasa hukum Ismail, Ahmad Lutfi juga menegaskan, pelaporan yang dilakukan kakak kandung M. Rafi, Desi Ariyanti itu, bermula saat terjadi perkelahian antara M. Rafi dengan anak kandung M. Samsul. “Awalnya diminta untuk memberikan nasihat. Agar tidak saling berkelahi,” katanya.

Dikenal sebagai seorang guru ngaji di kampungnya, Ismail menuruti permintaan itu. Dia kemudian memanggil Rafi dan disaksikan sejumlah keluarganya. “Karena saat dinasihati selalu menunduk, bapak memegang dagunya agar melihat saat dinasihati,” terangnya.

Kasus inilah kemudian dinilai korban telah dianiaya oleh Ismail. Bahkan hal itu berbuntut di kepolisian. Anehnya lagi, M. Rafi yang hanya dipegang dagunya, mengalami luka memar di pipi sebelah kiri. Hal itu juga sesuai dengan hasil visum yang dikeluarkan RSUD Prof dr Moestopo. “Saat proses persidangan, ternyata ada pengakuan saksi korban kalau yang melakukan penamparan adalah orang lain,” tambah Lutfi.

Baca Juga:  Advokat se-Jatim bersatu, sosialisasikan sistem peradilan berbasis digital

Akibat perbuatannya, Ismail sendiri dijerat dengan pasal 351 KUHP tentang penganiayaan. Setelah berkas memasuki proses P21, Ismail kemudian ditahan penyidik Kejari Mojokerto. “Namun yang aneh, pasal yang diterapkan ke Ismail berbeda. Saat penahanan, pasal yang dikenakan adalah pasal 80 UU nomor 23 tahun 2003 tentang Perlindungan Anak,” katanya.

Indikasi adanya peradilan sesat juga terasa saat proses persidangan. Dalam berkas dakwaan disebutkan, Ismail diduga telah melanggar pasal 81 nomor 23 tahun 2003 tentang Perlindungan Anak. “Yang benar yang mana? Artinya, kasus ini sudah aneh sejak proses penyidikan di kepolisian. Kita minta agar Kapolres Mojokerto dan Kapolda Jatim turun dan melakukan penindakan terhadap anggotanya yang berani merekayasa penyidikan,” pungkas Lutfi. @rif