LENSAINDONESIA.COM: Satu dekade mendatang, Indonesia diprediksi menjadi kekuatan ekonomi dunia dan harus mempersiapkan 115 juta tenaga kerja dengan kemampuan mumpuni. Hal ini tentunya menjadi tantangan berat bagi angkatan kerja Indonesia untuk bersaing karena saat ini masih didominasi skilled worker dangan kualifikasi lulusan Sekolah Dasar (SD) saja.

Direktur Kelembagaan dan Kerjasama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Achmad Jazidie dalam sambutanya di depan wisudawan sebuah kampus di Lamongan mengatakan, pekerja di Indonesia mayoritas berpendidikan SD yaitu sebanyak 5 persen.
Sedangkan angkatan kerja dari lulusan perguruna tinggi baru sekitar 7 persen.

“Kami akan merubah struktur angkatan kerja ini sehingga pada tahun 2025 lulusan perguruan tinggi bisa mencapai 20-25 persen. Kemudian lulusan SD bisa ditekan hingga 20 persen dan sisanya akan diisi lulusan sekolah menengah pertama dan menengah atas,” terangnya

Menurutnya, tuntutan agar lulusan pendidikan tinggi siap kerja mulai diwujudkan Kemendikbud dengan meningkatkan prosentase pendidikan tinggi vokasi, atau pendidikan dengan prioritas penguasaan keahlian terapan tertentu, menjadi 40 persen di tahun 2025. Karena saat ini, lanjut dia, 75 persen komposisi lulusan pendidikan tinggi adalah pendidikan akademik.

“Untuk mendorong meningkatnya prosentase pendidikan tinggi, kampus politeknik bisa menjalankan program pasca sarjana atau S2″ urainya.

Menutup orasi ilmiahnya, Achmad Jazidie berharap lulusan pendidikan tinggi agar tetap mengembangkan inovasi dan kreativitasnya. Dia memberi gambaran, agar dalam memecahkan persoalan tidak berpuas diri dengan hanya memiliki sebuah palu.

“Banyak cara memandang dan memecahkan persoalan. Jangan setiap persoalan diselesaikan dengan menganggap persoalan itu sebagai paku yang harus dipukul dengan palu, “ katanya.

Sesuai prediksi McKinsey Global Institute, di tahun 2030, Indonesia akan masuk tujuh besar kekuatan ekonomi dunia, berada di atas Jerman dan Inggris.

Terkait hal ini, Sekkab Yuhronur Efendi juga mengatakan hal senada dengan menyebut banyak peluang dan potensi di Lamongan yang jika dikembangkan dengan inovasi dan kreasi, bakal menjadi sebuah prestasi. Mantan Kepala Bappeda ini kemudian memberi contoh banyaknya prestasi tingkat nasional yang diraih Lamongan belakangan ini karena kreasi dan inovasi dari potensi yang dimiliki Lamongan.

“Termasuk ditetapkannya Lamongan sebagai satu-satunya kota kecil di Indonesia sebagai peraih Adipura Kencana,” cetusnya@Ali Muhtar**