LENSAINDONESIA.COM: Data Global Financial Inclusion Index dari Bank Dunia merilis, jumlah orang di Indonesia yang mempunyai akun di bank hanya sekitar 19,6 persen. Sementara di negara lain seperti Malaysia mencapai 66,7 persen, disusul Thailand 77,7 persen, India 35,2 persen dan Filipina 26,5 persen.

Menurut ekonom CIDES Umar Juoro, data statistik yang dirilis Bank Dunia tersebut sebagai fakta penetrasi industri keuangan di Indonesia masih terbilang rendah jika dibandingkan negara lain. Kata dia, rendahnya inklusi finansial tersebut juga tercermin dari rasio Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia yang hanya mencapai 39 persen.

Padahal, rasio penyaluran kredit terhadap PDB hanya 33 persen. “Financial inclusion (penyedia akses) di Indonesia sangat rendah. Hal tersebut berkonsekuensi pada biaya tinggi bagi masyarakat untuk mendapatkan akses keuangan. Ujung-ujungnya timbul eksploitasi finansial seperti maraknya lintah darat,” terang Umar kepada LICOM di SPH Surabaya, Senin (16/9/2013).

Umar menyebutkan, data Bank Dunia tahun 2010 telah menunjukkan orang di Indonesia hanya 68 persen yang memiliki tabungan. Dari data itu hanya 50 persen yang menabung di lembaga formal, baik di bank maupun lembaga keuangan non-bank. Sekitar 18 persen kelompok masyarakat lainnya menabung secara informal, termasuk dengan cara-cara sederhana seperti menyimpan uang di rumah.

“Hambatan terciptanya inklusi finansial antara lain minimnya cabang bank. Saat ini di Indonesia ada sekitar 15.000 cabang bank, yang tentu saja tidak bisa menjangkau seluruh wilayah Indonesia yang sangat luas. Saat ini di Indonesia ada 16 ATM per 1.000 km, jauh di bawah Malaysia 34 ATM, Thailand 83 ATM, atau Vietnam 42 ATM,” ungkapnya.

Umar berharap untuk meningkatkan inklusi financial tersebut diperlukan sejumlah langkah. Di antaranya, sinergi antara perbankan, lembaga keuangan non-bank, dan kelompok masyarakat seperti ormas. Edukasi juga menjadi kunci dengan terus mensosialisasikan pentingnya industri keuangan dalam menggerakkan perekonomian nasional.

“Salah satu cara yang bisa digenjot adalah branchless banking. Ini memungkinkan layanan keuangan dilakukan melalui agen atau Unit Perantara Layanan Keuangan (UPLK),” tandas dia.

Salah satu layanan branchless banking adalah BTPN Wow dari BTPN. Layanan ini dikembangkan melalui telepon genggam dan agen didaerah.

Sementara Head of Sales BTPN Wow Donny Prasetya mengatakan, branchless banking merupakan program uji coba dari Bank Indonesia (BI) untuk perbankan di Indonesia. Tujuannya, melayani masyarakat yang belum tersentuh layanan keuangan sperti, transfer, menabung dan kredit.

“Program ini ssangat mudah hanya butuh handphone saja. Untuk menjadi agen BTPN Wow sangat mudah asal, daerah tersebut mudah dijangkau masyarakat saja,” ujar dia.@dony