LENSAINDONESIA.COM: Seiring rencana masuknya era AFTA (Asean Free Trade Area) di Indonesia 5 tahun kedepan, pasar dunia konstruksi di Tanah Air akan alami persaingan yang cukup ketat antar pengusaha konstruksi dalam skala internasional.

Bahkan, bisa dikatakan persaingan kompetitif dengan pengusaha konstruksi dari luar itu akan menjadi ancaman bagi pengusaha yang tergabung dalam Gabungan Pengusaha Konstruksi Indonesia (Gapeksindo).

Gatot Prasetyo, praktisi sekaligus pengamat konstruksi di Indonesia memaparkan, untuk 5 tahun kedepan ini, Indonesia akan memasuki era AFTA (pasar bebas) dimana semua bisnis atau usaha yang dari luar akan memasuki pasar Indonesia.

“Oleh karena itu, paling tidak masyarakat ataupun pengusaha konstruksi Indonesia harus paham tentang pemetaan pasar dunia konstruksi di negara sendiri seperti apa,” jelasnya saat dikonfirmasi oleh LICOM, Senin (23/9/2013).

Dijelaskannya, pasar dunia konstruksi di Indonesia ini hanya ada 3 khususnya regional Jawa Timur, yakni proyek dari pemerintah, swasta, serta dari masyarakat luas. Menurutnya, proyek pemerintah saat ini ada sekitar Rp 10 triliun, 3 atau 4 triliun didapat dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) provinsi dan Rp 30 miliar untuk tiap-tiap kabupaten/kotanya.

“Sedangkan proyek dari swasta (perumahan, hotel, dan lain-lainnya) juga hampir sama anggaran dananya dengan pemerintah, jadi ada sekitar Rp 20 Triliun,” ingat lelaki yang pernah menduduki jabatan mantan Ketua REI dan Gapeksindo DPD Jatim ini.

Gatot juga mengatakan, proyek-proyek senilai Rp 20 triliun itu merupakan peluang yang besar bagi pengusaha konstruksi yang ada di Tanah Air terutama Gapeksindo karena akan diperebutkan sekitar 10.000`an kontraktor di seluruh Jatim. 2500 diantaranya adalah anggota Gapeksindo.

“Kalau pangsa pasar yang ada sebesar Rp 20 triliun, paling tidak kita bisa merebut sekitar 20 hingga 30 persen atau sekitar 4-6 triliun dari total yang ada. Jadi kalau dirata-rata para anggota kita bisa mengerjakan proyek sekitar Rp 1 miliar,” cetusnya.

Namun, kalau para pengusaha konstruksi dari luar masuk ke Indonesia, tentunya ini akan menjadi ancaman tersendiri bagi pengusaha-pengusaha konstruksi Indonesia. Karena di era APTA, pendaftaran-pendaftaran lelang akan menjadikan persaingan yang kompetitif.

“Contoh saja, kalau semisal pengusaha kontraktor dari Malaysia masuk dengan membawa penawaran-penawaran tander murah, itu akan menjadi ancaman tersendiri dan nyata bagi semua pengusaha konstruksi Indonesia khususnya Gapeksindo,” tutupnya.@dony