Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
AKTIVIS

Solidaritas mahasiswa unjuk Rasa, Makassar lumpuh total 

LENSAINDONESIA.COM: Puluhan mahasiswa kampus hijau Universitas Muhammadiyah Makassar, Sulawesi-Selatan kembali turun ke jalan dan menggelar aksi unjuk rasa terkait dengan tragedi kematian rekan mereka dari fakultas Sospol yang dikabarkan mati tertembak di ruas Jl. Sungai Saddang, Makassar.

Kelompok pengunjuk rasa tersebut mengaku terpukul mendengar tragedi kematian saudara mereka, alm. Aksal Pradito (26 thn). Mahasiswa menyesalkan penembakan tanpa keterangan jelas yang telah merenggut nyawa rekan mereka
sesama mahasiswa Unismuh Makassar.

Terkait hal itu, mahasiswa menilai tindakan penembakan terhadap Alm. Aksal Pradito sebagai salah satu bentuk pelanggaran kode etik di dalam lingkaran institusi kepolisian, yang juga tidak terlepas dari kelalaian pimpinan kepolisian.

Kelalaian itu, dinilainya telah membuktikan bahwa peranan institusi kepolisian sebagai pelaksana peraturan (pengaman dan pengayom) tengah mengalami disfungsi dan cacat mental.

Terlebih, dalam catatan mahasiswa, insident penembakan yang menimpa alm Aksal Pradito merupakan satu dari ribuan dugaan kasus pelanggaran HAM yang dilakukan oleh oknum anggota dari lingkungan institusi kepolisian di Sulawesi-Selatan.

Atas dasar pemikiran itu, hingga mereka memutuskan untuk turun ke jalan dan menggelar orasi guna menuturkan rasa empati dan simpati mahasiswa yang dituangkan dalam ‘Gerakan Solidaritas Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Anti Premanisme Militer’.

Melalui rangkaian pernyataan sikap yang disampaikan dari atas mobil truk kampas pada Senin (23/9), para mahasiswa ini dengan terbuka menyampaikan suasana hati mereka yang mencekam, mengecam dan menuntut palu keadilan agar aparat hukum untuk menuntaskan kasus ini.

Aparat kepolisian, di wilayah hukum Sulselbar juga diminta untuk dapat bersikap pro aktif dan dapat secepat mungkin menuntaskan dugaan kasus pengeroyokan terhadap rekan mereka, Fadly Akbar, serta menghentikan seluruh bentuk-bentuk pelanggaran HAM terhadap mahasiswa.

Terakhir, mereka menuntut agar Brigadir Syekh Yusuf segera dipecat dari institusi kepolisian, disertai pencopotan Kapolda Sulselbar, Burhanuddin Andi. Dalam aksinya, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Makassar ini sempat menyandera dua unit mobil truk kampas jenis box yang digunakan sebagai mimbar orasi. Salah satu mobil dikenali milik perusaan TOP Coffe.

Akibat aksi tersebut, arus lalu lintas di sepanjang ruas Jl. Sultan Alauddin-Mallengkery sempat lumpuh total sampai ke perbatasan Kota Makassar, Kabupaten Gowa.

Aksi solidaritas mahasiswa yang berlangsung hingga hari Senin sore berakhir bentrok dengan aparat kepolisian dari Polsek Rappocini dan Polrestabes Makassar yang terpaksa melepaskan tembakan gas air mata untuk menghalau lemparan batu yang diarahkan mahasiswa kepada petugas.

Usai bentrok, polisi mengamankan dua orang mahasiswa yang diduga sebagai provokator terjadinya kericuhan. Setelah berhasil memukul mundur mahasiswa hingga memasuki areal kampus mereka, polisi langsung mengambil tindakan membuka blokir jalan yang sempat dibuat lumpuh total oleh aksi mahasiswa Universitas Muhammadiyah Makassar.

Aksi solidaritas serupa, ikut digelar mahasiswa dua perguruan tinggi swasta di kota Makassar yakni Mahasiswa Universitas Muslim Indonesia dan Universitas Indonesia Timur. Beruntung, Unras yang berlangsung di ruas jalan Urip Sumoharjo dan Rappocini, berjalan tertib dan lancar tanpa diwarnai keributan.

Polisi Angkat Bicara Soal Kronologis Penembakan Aksal (26 thn) terpaksa dilumpuhkan dengan timah panas karena nyaris membacok lengan kiri anggota kepolisian berinisial Y yang berusaha mengamankannnya saat akan menyerang salah satu warung milik pedagang kaki lima di Jl. Sungai Saddang. @fadly-syarif