Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    

Bos PT Raihan Jewellery tak terima dituntut setahun penjara 

LENSAINDONESIA.COM: Tak terima dituntut jaksa satu tahun penjara, Bos PT Raihan Jewellery Muhammad Azhari, selaku terdakwa penipuan investasi emas miliaran rupiah mencoba melakukan pembelaan dengan berdalih perkara yang membelitnya hanyalah perkara perdata, bukan pidana.

Mansur Luthfi, penasehat hukum Azhari, mengatakan antara terdakwa dengan para nasabah (korban) ada hubungan keperdataan dalam bisnis investasi emas di PT Raihan Jewellery yang dikelola terdakwa. “Ada form pembelian, ada kontrak perjanjian,” ujarnya dalam sidang pembelaan di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Rabu (25/9/2013).

Menurut Mansur, terdakwa sebenarnya sudah melakukan kewajibannya dengan membayarkan cashback kepada para nasabahnya selama enam bulan, sebagaimana tertuang dalam kontrak perjanjian. Namun karena terjadi kendala usaha, cashback tidak penuh. “Tapi terdakwa sudah melakukan pertemuan dengan nasabah dan beritikad baik menyelesaikan masalah ini,” jelasnya.

“Jika kemudian ada kewajiban yang tidak dilaksanakan Jewellery, mestinya nasabah menuntut kerugian secara materi melalui pengadilan. Bukannya malah membawa masalah ini ke pidana umum. Karena kasus ini wanprestasi, bukan penipuan. karena itu saya meminta hakim membebaskan hukuman terdakwa dan membatalkan seluruh dakwaan jaksa,” sambungnya.

Sebelumnya, jaksa penuntut umum (JPU) Djuhairiyah dan Nugroho Priyo Susetyo menuntut terdakwa 1 tahun penjara. Terdakwa dinilai melanggar Pasal 378 KUHP tentang penipuan.

Sekedar diketahui, perkara ini disidik Polda Jatim akhir 2012 lalu setelah sejumlah korban melaporkan Azhari, Direktur PT Raihan Jewellery karena merasa tidak menerima keuntungan investasi emas 2,5 persen sebagaimana dalam kontrak perjanjian. Mereka yang melaporkan di antaranya  Lany Sutanto (investasi Rp 1,3 M), Rudy Kandarani (investasi Rp 1,61 M), dan Laniwati (Rp 1,8 M).

Dalam dakwaan jaksa menjelaskan, PT Raihan Jawalerly diduga tak menepati kontrak perjanjian. Nasabah mau menanamkan investasi karena tergiur dengan imbalan hasil 2,5 persen setiap bulan. Dalam jangka waktu enam bulan, perusahaan berjanji mengembalikan seluruh dana investasi emas itu. Namun, sejak Desember 2012, Raihan diduga menghentikan pembayaran imbal hasil dan belum mengembalikan dana investasi awal.@ian_lensa