LENSAINDONESIA.COM: Dualisme kepengurusan yang saat ini muncul di organisasi Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) tidak akan berdampak apapun bagi perekonomian di negeri ini.

Munculnya Munaslub KADIN versi Osman Sapta Odang yang memunculkan Rizal Ramli sebagai Ketua Umum sebaiknya hanya kita tempatkan sebagai sebuah lelucon yang tidak lucu. Mengingat, hal itu berlangsung di tengah kondisi perekonomian di Republik ini yang tidak kunjung membaik.

Secara organisasi, menempatkan seorang yang bukan pengusaha di posisi ketua umum perkumpulan pengusaha sudah pasti menyalahi aturan. Sehingga bisa kita cek apakah AD/ART KADIN baru ini telah berubah atau tidak.

Upaya lanjutan dari `kudeta gagal` di tubuh KADIN yang kesekian-kalinya dan dimotori oleh kubu Oesman Sapta justru mengingatkan kita pada upaya serupa yang terjadi di tubuh HKTI, meski untuk yang ini endingnya belum kita ketahui.

Namun buat masyarakat, baik KADIN resmi yang kepengurusannya bisa kita lihat di KADIN-Indonesia.or.id, maupun KADIN `luarbiasa` versi Munaslub Bali, keduanya diyakini tidak akan memberikan perubahan signifikan bagi arah kebijakan ekonomi negeri ini yang sedang menukik tajam.

Sebagai wadah para pengusaha negeri ini yang notabene pemilik dan pengelola kapital cukup besar di tanah air, gebrakan dan positioning mereka terhadap ekonomi kerakyatan, ketahanan pangan dan energi, serta swasembada di segala bidang nampak masih samar-samar dan sangat tidak nyata dirasakan oleh masyarakat.

Kiprah maupun gagasan mereka justru nampak selalu tertinggal dibandingkan asosiasi sejenis dalam lingkup sektoral seperti APEMINDO di pertambangan, APINDO dan lain-lain.

Di sisi lain, pertarungan di tubuh organisasi yang secara undang-undang resmi mewakili negeri ini di kancah Internasional tersebut yang terjadi jelang Pemilu 2014 juga membuat masyarakat perlu melihat latar belakang politik dan motivasi yang melatarinya.

Sudah menjadi rahasia umum, di masa lalu KADIN kerap menjadi batu loncatan bagi pengusaha yang ingin terjun ke dunia politik dan masuk dalam lingkar kekuasaan di negeri ini.

Hal yang sama justru semakin terlihat ketika nama mantan Menko Perekonomian, Dr. Rizal Ramli muncul di tubuh KADIN `luarbiasa` ini.

Apakah ini satu dari sederet langkah para petualang politik yang mencoba menaikkan nilai tawar di 2014 atau bagian dari skenario besar kekuasaan yang saat ini akan berganti? Dengan kata lain, KADIN `luarbiasa` justru diciptakan oleh penguasa lama untuk mempertahankan pengaruhnya? Atau calon penguasa yang berambisi menjadikan KADIN jembatan mencapai impian.

Apapun itu, pada akhirnya tetap tidak bisa menjawab krisis ekonomi yang ada di depan mata dan tidak membantu rakyat menghadapi kesulitan yang melilitnya. Kecuali hanya menjadi fragmen dari ambisi akan jabatan dan kekuasaan.

Sebaiknya para pengusaha di KADIN bisa berfikir jernih dan lebih mengutamakan tindakan nyata dibanding berebut kursi dan melempar retorika belaka. Karena buat rakyat itu sama sekali tidak berguna.@licom