LENSAINDONESIA.COM: Upaya pengajuan Peninjauan Kembali (PK), mantan Ketua DPRD Jatim periode 2004-2009, Fathorrasjid, terpidana kasus korupsi dana hibah Program Penanganan Sosial Ekonomi Masyarakat (P2SEM) Pemprov Jatim, ditolak Mahkamah Agung (MA).

Salinan putusan PK kasus ini diterima Pengadilan Negeri (PN) Surabaya,Senin (7/10/2013). Dalam putusan disebutkan, Majelis Hakim Agung yang terdiri dari Hatta Ali (Hakim Ketua), Hamrat Hamid dan Surya Jaya, menyatakan menolak PK yang diajukan Fathorrasjid.

“Menetapkan bahwa putusan yang dimohonkan peninjauan kembali tersebut tetap berlaku,” tulis majelis hakim agung dalam amar putusannya.

Soedi Wibowo, Wakil Panitera/Sekretaris PN Surabaya, menjelaskan, salinan putusan PK baru diterima. Dalam waktu dekat dia akan mengirimkan salinan putusan tersebut kepada pihak berperkara. “Secepatnya kami beritahukan kepada para pihak berperkara,” ujarnya.

Sejak 2011 lalu, Fathorrasjid memang berupaya keras untuk segera bebas dari hukuman, setelah dia menjalani hukuman lebih dari seprtiga masa hukuman 4 tahun penjara. selain mengajukan PK, Fathor juga mengajukan pembebasan bersyarat (PB) ke Kementerian Hukum dan HAM. PB-nya hingga kini belum clear, sementara PK-nya baru diputus beberapa bulan lalu dan salinannya diterima PN kemarin.

Fathorrasjid divonis bersalah dalam kasus korupsi dana P2SEM, yang disalurkan Pemprov Jatim 2008 lalu. Oleh MA dia dijatuhi hukuman penjara 4 tahun plus denda 100 juta rupiah. Kasus P2SEM sempat bikin heboh publik Jatim sejak diusut Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jatim dan beberapa kejaksaan negeri (Kejari) di Jatim, sejak 2009 lalu.

Korupsi dana hibah senilai ratusan miliar ini, ditengara melibatkan banyak pihak. Puluhan orang, terutama pihak penerima, menjadi pesakitan karena kasus ini. Untuk yang terbilang kakap, kejaksaan baru membuktikan keterlibatan dua anggota DPRD Jatim periode 2004-2009, yakni mantan Ketua DPRD Jatim Fathorrasjid dan anggota Fraksi Golkar saat itu, Lambertus L Wayong.

Adapun dr. Bagoes, terpidana dan saksi kunci kasus ini, hingga kini masih buron. @ian_lensa