Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
BALI / NTB / NTT / PAPUA

Pengelolaan lingkungan PT. Tekindo Energy amburadul 

LENSAINDONESIA.COM: Keberadaan PT Tekindo Energy, salah satu perusahaan tambang yang melakukan aktivitas di Kecamatan Weda Tengah, Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara, tepatnya di perbatasan desa Lokulamo dan Lelilef, semakin meresahkan warga.
Pasalnya, selain mencemari sungai Lokulamo yang menjadi konsumsi warga setempat, PT. Tekindo juga melakukan pencemaran air bersih yang dikonsumsi sebagian warga Lelilef.
Koordinator divisi pertambangan.

LSM KABATA Halmahera Tengah, Ahmad Kamil Hamid, ST, mengatakan, saat ini warga di desa Lokulamo dan Lelilef, mempersoalkan sungai yang sudah tercemar akibat dari
aktivitas PT Tekindo,”Warga mendesak kepada PT. Tekindo Energy harus bertanggung jawab atas dampak yang saat ini dirasakan warga desa lingkar tambang,”kata Ahmad kepada LICOM, Sabtu (12/10/13).

Menurutnya, kesalahan PT. Tekindo Energy tak hanya melakukan pencemaran terhadap air bersih. Namun, juga terbukti melakukan pencemaran lingkungan dengan cara tidak mengelola secara baik limbah Bahan Beracun Berbahaya (B3) seperti ban bekas, alat- alat berat yang sudah rusak, serta oli bekas. Perusahaan tersebut juga tidak
menyediakan tempat penampungan khusus untuk pengelolaan limbah B3 yang berefek
pada kondisi lingkungan dan estetika lingkungan.

Dengan kondisi tersebut, PT TekindoEnergy diminta segera merevisi izin amdal, karena didalamnya tertera juga menyangkut kesejahtraan masyarakat, mengelola lingkungan secara baik. Apalagi saat ini, 72 lahan pertanian sudah tidak berfungsi, karena lahan dan sungai sangat berdekatan dengan tempat penampungan hasil biji nickel (ord) yang masih ditampung.

“PT Tekindo Energy harus lebih mengutamakan putra daerah, karena kehadiran
perusahaan tak lain untuk menyejahtrakan masyarakat Halteng. Sebab selama ini, tidak satupun putra daerah yang direkrut bekerja di PT. Tekindo,”tuturnya. @eko.

Baca Juga:  FKPPI Jatim tangkal radikalisme dan intoleransi dengan literasi