Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
Birokrasi

Golkar desak Panglima TNI evaluasi infrastruktur dan SDM militer 

LENSAINDONESIA.COM: Partai Golkar mendesak Panglima TNI Jenderal Moeldoko melakukan evaluasi yang lebih baik pada infrastruktur dan SDM yang mengawaki helikopter militer. Desakan itu dilontarkan Golkar menyusul insiden beruntun yang dialami helikopter buatan Rusia, MI-17 akhir-akhir ini.

“Perlu evaluasi lebih baik pada infrastruktur helikopter dan SDM yang mengawasinya. Baik pilot maupun pengawasnya. Ini sangat penting karena menyangkut nasib para prajurit dan juga warga sipil yang bisa terkena dampaknya,” kata anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Marsekal Madya (Purn) Basri Sidehabi di Jakarta, Selasa (12/11/2013).

Dia mengatakan, investigasi menyeluruh atas seluruh armada helikopter MI-17 juga sangat diperlukan. Sebab, sebelum kecelakaan fatal yang menewaskan 13 orang di Malinau, Kalimantan Utara, telah terjadi dua kali insiden.

“Kita akui, ini heli yang sangat handal. Tapi mengingat terjadi insiden beruntun, kita perlu tahu dimana persoalannya supaya ke depan tidak terjadi lagi atau bisa diminimalisir,” jelas penerbang pertama pesawat tempur F-16 Indonesia tersebut.

Mantan penerbang yang mengoleksi lebih dari 5.000 jam terbang ini mengatakan, investigasi diperlukan untuk mengetahui apakah kecelakaan fatal itu karena faktor teknis atau faktor manusia (human error).

Seperti diketahui, pada Sabtu (09/11/2013), helikopter MI-17 yang mengangkut 19 personil TNI dan sipil serta bahan pembangunan pos perbatasan dengan Malaysia, jatuh di Desa Apau Ping, Kecamatan Bahau Ulu, Kabupaten Malinau, Kalimantan Timur.

Akibat kecelakaan itu, 13 orang penumpang meninggal dunia. Terdiri dari 5 personil TNI dan 8 sipil. Kecelakaan itu merupakan yang terburuk setelah dua insiden sebelumnya.

Sebelumnya, pada 24 Agustus 2013, satu pintu heli sejenis milik Kodam VI Mulawarman copot dan jatuh menimpa rumah penduduk di Penjaringan, Jakarta Utara. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian itu.

Baca Juga:  KAHMI siapkan draf kajian Revisi UU Pemilu

Tak lama berselang, pada 11 Oktober 2013, heli sejenis juga mendarat darurat di sekitar 600 meter arah barat Bandara Okbibab, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua.

Heli yang saat itu membawa bantuan logistik dari Bandara Sentani, Jayapura menuju Bandara Okbibab tiba-tiba hilang kendali dan melakukan pendaratan darurat. Tidak ada korban jiwa pada insiden itu.@endang