LENSAINDONESIA.COM: Keberadaan Industri garmen dan tekstil merupakan industri strategis penyumbang devisa terbesar bagi Jawa Tengah. Bahkan di pasar internasional posisi cukup bagus.

“Produk tekstil merupakan satu dari tiga komoditas utama yang mempunyai nilai kspor tinggi selama bulan Juni 2012, yaitu sebesar 169,25 juta US$, disusul kayu dan barang dari kayu sebesar 77,87 US$ dan bermacam barang hasil pabrik sebesar 52,72 US$“ ungkap, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo disela-sela pembukaan pelatihan SDM industri Garmen, di Balai Dinperindag, Jl. Tambak Aji, Semarang, Selasa (26/11/2013)

Industri garmen yang bersifat padat karya, tersebar di beberapa Kab dan Kota di Jawa Tengah. Menjadi salah satu penyedia lapangan kerja utama selain sektor pertanian.

“Kebutuhan SDM industri garmen siap kerja semakin bertambah seiring terbukanya peluang ekspor tekstil dan produk tekstil akibat pembatasan masuknya produk China ke pasar Amerika dan Eropa,“ terangnya

Dengan adanya pelatihan peningkatan kualitas SDM dan komoditas garmen Jawa Tengah serta kemampuan pasok yang cepat, diharapkan akan semakin mendorong peningkatan ekspor garmen Jawa Tengah.

“Sehingga selain kontribusi terhadap penurunan angka pengangguran dan kemiskinan, industri garmen juga berdaya guna dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah,“ lanjutnya

Kepada ratusan peserta pelatihan jahit highspeed, Ganjar berpesan agar mendayagunakan kesempatan seoptimal mungkin untuk mempraktekkan ilmu yang diperoleh dari pelatihan di Balai Pelatihan SDM dan Produk IKM

“Kesempatan ini adalah peluang bagi saudara untuk memperbaiki masa depan dan menjadi modal untuk memperoleh pekerjaan lebih baik,“ pesannya.

Dalam acara itu, juga dilakukan penyerahan bantuan 200 mesin jahit high speed, dari Ditjen BIM Kementrian perindustrian RI dan pelepasan ratusan tenaga trampil yang akan dikirim ke beberapa perusaahaan garmen di wilayah Jawa Tengah, oleh Gubernur Jawa Tengah.@nur_sholikin