LENSAINDONESIA.COM: Jaringan Lintas Iman Yogyakarta menggelar peringatan empat tahun wafatnya Gus Dur dengan ‘Napak Tilas Gus Dur dalam Merawat Kebhinekaan Indonesia’ yang akan diadakan pada 16 dan 30 Desember 2013.

Peringatan ini sangat penting, karena ajaran Gus Dur banyak dijadikan pijakan bagi mereka yang prihatin dengan kian maraknya konflik horisontal di Indonesia. Pada 16 Desember diadakan kirab dan pentas budaya lintas iman. Sedang 30 Desember, didakan Haul memperingati wafatnya Gus Dur.

Menurut Ahmad Ghozi Nurul, Ketua Panitia, selain mengenang tokoh Gus Dur, juga mengingatkan pentingnya toleransi antar umat beragama, guna memutus maraknya mata rantai kekerasan di Yogyakarta.

“Kami bermaksud menghadirkan kembali spirit Gus Dur di tengah warga Yogyakarta, agar kembali tersadar pentingnya toleransi untuk menjaga keutuhan bangsa ini, sebagaimana yang dicontohkan Presiden RI keempat,” ucap Ghozi, di depan wartawan, kemarin.

Acara pada 16 Desember 2013, akan menghadirkan KH Mustofa Bisri (Gus MUS), Shinta Nuriyah, Romo Aloysius Budi Pranomo, Bante Panyavaro serta beberapa tokoh lainnya. Para tokoh tersebut akan menyampaikan orasi budaya berupa pembacaan puisi pada pukul 18.30 WIB.

Sebelum acara Pentas Budaya Lintas Iman, panitia akan menggelar kirab budaya yang diikuti sekitar 2.000 orang, dari halaman kantor DPRD DIY, berakhir di Monumen 11 Maret atau Titik Nol Kilometer, pada pukul 16.00 WIB.

Rendra Setiawan, seksi acara mengatakan,  kegiatan kirab akan diiikuti berbagai komunitas yang jumlahnya mencapai 2000 orang. “Kami telah menerima konfirmasi keikutsertaan kirab dari berbagai komunitas, diantaranya Kuda lumping, bergada Mataram Kota Gede, ketoprak pelajar, termasuk di dalamnya komunitas difabel,” kata Rendra.

Puncak acara tersebut ditandai dengan menggelar Haul Akbar, yang akan diselenggarakan pada Senin (30/12), di Pakualaman pada pukul 19.00 WIB. Acara ini mengetengahkan tahlil kebangsaan yang dipimpin oleh KH Asyhari Abta.@teguh_ra