LENSAINDONESIA.COM: Direktur Utama (Dirut) PT Gamya Taksi Grup, Mintarsih A Latief  mengajukan gugatan terhadap kepemilikan  sepertiga bagian sahamnya yaitu 15 persen  dari CV Lestiani dan Purnomo Prawiro sebagai Presiden Direktur Blue Bird Grup ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Mintarsih melayangkan gugatan tersebut agar sahamnya yang ada di Blue Bird Group sejak 2001 dikembalikan. “ Saya kaget setelah mengetahui  hak saya  di CV Lestiani  sudah hilang, sebab , saya tidak merasa menjual sahamnya di PT Blue Bird Grup,” kata Mintarsih, ketika di temui LICOM  di rumahnya, jalan Mampang,  Jakarta, Kamis (12/12/13).

Mintarsih mengatakan, tergugat I dan tergugat II dituding melakukan perbuatan melawan hukum karena tidak menjalankan anggaran dasar perusahaan.Misalnya, Purnomo tidak pernah membuat, memperlihatkan atau meminta tanda tangan laporan keuangan CV Lestiani kepada Mintarsih.

“Awalnya, Mintarsih, Purnomo, dan  Chandra Suharto mendirikan CV Lestiani. Waktu itu saya (Mintarsih –red) menjabat Wakil Direktur dan Purnomo sebagai Direktur. CV Lestiani. Ini merupakan salah satu pemegang saham PT Blue Bird Taksi,” ujar wanita yang saat ini berusia 74 tahun.

Pasca-meninggalnya Chandra pada Oktober 2010, kepengurusan CV diteruskan Mintarsih dan Purnomo. Namun ternyata, sejak didirikan tahun 1971 ada perselisihan di antara keduanya  yang tak kunjung redam.

Selanjutnya, Mintarsih  menjelaskan, pada tahun 2001 Direktur aktif (Purnomo Prawiro) dan Komisaris Utama PT BLUE BIRD TAXI (Alm. Brigjen Pol (P) Chandra Suharto) membuat perusahaan tandingan dengan mendirikan PT BLUE BIRD  (tanpa kata TAXI).

“Saat ini kami ajukan 5 (lima) gugatan yang berhubungan dengan PT BLUE BIRD  (tanpa kata TAXI) yaitu  Gugatan pertama, gugatan terhadap kepemilikan saham CV Lestiani. CV Lestiani memiliki 45% saham di PT BLUE BIRD TAXI. Mintarsih memiliki sepertiga dari CV LESTIANI yaitu 15% saham di PT BLUE BIRD TAXI. Setelah adanya konflik yang berkepanjangan sampai ada penganiyaan terhadap pemegang saham, maka Mintarsih minta mundur sebagai pengurus CV LESTIANI,” tukasnya.

Kemudian munculah gugatan di. PN JAKPUS. Mintarsih menggugat untuk bagian sahamnya di PT BLUE BIRD TAXI diatas namakan dirinya sendiri. Mintarsih sangat  kaget ketika mengetahui bahwa hak Mintarsih di CV LESTIANI sudah hilang.

“Cara hilangnya saham persero CV LESTIANI dilakukan dengan cara mensalahartikan mundur sebagai pengurus dan persero, namun seharusnya kalaupun mensalah-artikan, harusnya tetap terbayar sebesar nilai CV pada saat harta dialihkan, namun persero (saham) inipun tidak pernah di bayar. Hak Mintarsih dialihkan lewat akte-akte  notaris yang sambung menyambung. @winarko