Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.  
HEADLINE HEALTH

Banyak wanita Indonesia berisiko mengidap kanker serviks 

LENSAINDONESIA.COM: Berdasarkan data dari Globocan 2008 telah ditemukan 20 kasus kematian akibat kanker serviks setiap harinya. Sebagian besar korbannya adalah wanita.

“Tingginya kasus kanker serviks di Indonesia dipicu oleh beberapa hal seperti, faktor geografis Indonesia terdiri dari 13.000 pulau, tidak ada program skrining, kurangnya fasilitas sitologi dan terapi, kurangnya kepatuhan pasien untuk melakukan pemeriksaan rutin, sebagian besar kasus ditemukan pada stadium lanjut maka akan masih banyak kendala bila hanya program deteksi menggunakan pap smear,” kata Konsultan Kanker Kandungan dan Staf Pengajar FKUI Divisi Onkologi Ginekologi Departemen Obstetri dan Ginekologi, Dr. Fitriyadi Kusuma, SpOG (K), saat acara SOHO #BetterU, dalam menyambut Hari Ibu, di Jakarta (20/12/13).

Menurut Fitriyadi, kanker serviks adalah kanker yang disebabkan oleh Human Papilloma Virus (HPV) yang menyerang leher rahim dan membutuhkan proses yang panjang antara 3 – 20 tahun untuk menjadi sebuah kanker yang diawali dengan infeksi.

“Hal inilah yang menyebabkan hampir 80% kasus yang ditemukan sudah dalam stadium lanjut. Kanker serviks merupakan penyakit yang berjalan lambat (silent disease), sehingga pada stadium pra kanker dan kanker stadium awal tidak menimbulkan gejala atau keluhan sama sekali,” ujarnya.

Fitriyadi menjelaskan, pertanda awal kanker serviks ditemukan adanya perdarahan pasca berhubungan intim tanpa disertai rasa sakit, keputihan berulang, berbau dan tidak dapat sembuh dengan pengobatan biasa.

“Pada stadium lanjut, akan mengalami rasa sakit pada bagian paha atau salah satu paha mengalami pembengkakan, nafsu makan menjadi berkurang, berat badan tidak stabil, susah buang air kecil dan mengalami pendarahan spontan,” jelasnya.

Dr. Fitriyadi menambahkan, insiden kanker serviks dapat diturunkan dengan pencegahan primer (meningkatkan pengetahuan tentang kanker serviks, penularan dan gejalanya serta pemberian vaksinasi HPV) dan pencegahan sekunder (dengan melakukan skrining Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA), tes pap dan metode pemeriksaan lain).

Baca Juga:  Jokowi ingin bertemu dua siswa SMA penemu obat kanker

IVA adalah prosedur untuk mengetahui kelainan pada epitel serviks (sel yang melapisi leher rahim) dengan menggunakan asam asetat 3%. Tes yang dilakukan melalui IVA adalah cara yang murah, sederhana dan hasilnya dapat dipertanggungjawabkan untuk dapat mendeteksi dini pra kanker serviks.

Teknik pemeriksaan IVA merupakan metode paling tepat dan mampu diterapkan untuk negara berkembang seperti Indonesia. Selain IVA, deteksi kanker serviks juga dapat dilakukan melalui tes pap. Tes pap adalah pemeriksaan dengan mengambil contoh sel-sel leher rahim, kemudian dianalisa untuk mendeteksi kemungkinan adanya kanker serviks,”imbuhnya. @winarko