LENSAINDONESIA.COM: Empat Kampung Etnis Semarang, meramaikan Festival Pandanaran Art yang digelar Pemerintah Kota Semarang, di halaman balaikota, Sabtu da Minggu kemarin.

Festival tahunan ini dimeriahkan tarian  etnis Kampung Arab, Belanda,  Jawa dan China. Mereka melebur dalam harmoni seni tradisi dan pluralisme kerukunan umat, yang menjadi tonggak kultur Kota Semarang

Selain tarian etnis, beberapa pameran warisan budaya khas dari keempat negera yang berbeda itu, mewarnai festival yang diikuti oleh semua elemen masyarakat di Kota Lumpia ini.

Kampung Arab mempertujukan tari sufi yang berasal dari Timur Tengah. Kampung China menampilkan musik khas Negeri Tirai bambu ini.. Etnis Jawa menampilkan mainan anak-anak kuno, seperti Cublak-Cublak Suweng, Padang Rembulane dan tarian anak-aak klasik. sedang kampung Belanda menampilkan drama kolosal berbahasa inggris, oleh anak-anak pelajar SD Kota Semarang.

Dengan tema “Kerukunan Antar Etnis” festifal juga dimeriahkan, aneka stand-stand pameran produk ungguaan usaha mikro  kecil dan menengah(UMKM) dan kuliner khas Ibu Kota Jawa Tengah.

Bagi pengunjung yang tak sempat melihat malam pembukaan, pada hari kedua masih dapat menyaksikan pertunjukan musik jazz, opera anak-anak, konser musik grup band lokal D’specials, Blackcherry, Seven Days, Clicks & Cherry Crunch Pajamas Java. Serta Tumandang, Geguritan & Campursari Arab.

Mini Stage Gambus, Story Telling 1001 Malam, Belly Dance, Workshop Henna Art & Orat Oret Community, Snake Dance, Balasyik, Sufi Dance & Arabian MoviesChina Mini Stage : Kids Barongsai & Kids DanceDutch Mini Stage.

Dalam Sambutannya, Hendrar Prihadi, Walikota Semarang mengatakan, acara ini menunjukan bahwa budaya yang ada di Kota Semarang ini sungguh majemuk.

“Meski begitu, empat etnis ini bisa hidup secara berdampingan dengan guyub, serta menggunakan perbedaan tersebut sebagai pemersatu dan semangat gotong royong,” katanya.@nur