LENSAINDONESIA.COM: Kasus sengketa yang masih berlanjut ini bermula kala Direktur Utama PT Gamya Taxi Mintarsih Abdul Latief yang juga memiliki saham di perusahaan tersebut dinyatakan telah mengundurkan diri dari PT BLUE Bird Taxi oleh Purnomo Prawiro. Padahal meski telah mundur dari jajaran Direksi PT Blu Bird Taxi dan tidak pernah melepas kepemilikan saham di perusahaan taxi tersebut.

Carut marut masalah ini semakin menyeret ke dua belah pihak ke pengadilan tatkan Mintarsi menggugat Purnomo cs karena secara sepihak telah menghilangkan hak Mintarsih salah satu pemegang saham di PT Blue Bird Taxi yang di ketahui memiliki sepertiga saham mayoritas di CV Lestani atau setara 15 persen saham di PT Blue Bird yang mengaku baru mengetahui kepemilikan sahamnya dihilangkan setelah 12 tahun kemudian.

Untuk itu saksi ahli dari Mintarsih yakni Hendri Pangabean seorang mantan Hakim Agung dan Barkah seorang pengamat Hukum Dagang menilai berdasarkan peraturan maupun undang yang berlaku, seorang atau pemegang saham yang mengundurkan diri sebagai Persero .

Dengan demikian hak dan kewajibannya sebagai pemegang saham tetap melekat. Hal disampaikan Direktur Utama PT Gamya Taxi Mintarsih Abdul Latief di kantor Gamya Taxi Group, pasar Rebo, Jakarta Timur, Senin (23/12/13).

“Seluruh saksi ahli sependapat bahwa baik pengurus maupun Persero yang mundur harus diberikan penggantian saham yang sesuai nilai yang berlaku, proses penggantian tersebut harus dilakukan secara musyawarah dan mufakat,” kata Mintarsih.

Menurut Mintarsih dalam Sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Rabu (18/12/13) lalu, sudah jelas dari saksi Ahli yakni Hendri Pangabean seorang mantan hakim Agung dan Barkah salah pengamat hukum dagang menilai berdasarkan peraturan maupun undang-undang yang berlaku, dan menyebutkan bahwa seorang Persero (pemegang saham) yang mengundurkan diri dari kepengurusan suatu perusahaaan tidak secara otomatis mengundurkan diri sebagai persero. Dengan demikian hak dan kewajibannya sebagai pemegang saham masih melekat.

“Disisi lain Mintarsih terkait notaris yang mencabut hak kepemilikannya di CV Lestani menjelaskan bahwa notaris bahkan tidak mengundang saya sebagai pihak yang paling berkepentingan dan malah mengalihkan kepemilikan saham saya kepada Purnomo dan Alm Chandra di samping itu juga pengunduran diri saya sebagai Wakil direktur atau  pengurus PT.BLUE BIRD TAXI tidak ada keberatan dari keduanya bahkan sudah diterima dengan baik oleh purnomo prawiro maupun Alm.Chandra. Sehingga saya tidak ada dasar Purnomo CS yang bersikukuh bahwa saya mengundurkan diri sebagai pemegang Saham persero,” bebernya.

Mintarsih membantah telah di bayar haknya sebagai persero pada tahun 1999 dan 2000, klaim yang dinyatakan oleh baik kubu Purnomo Prawiro CS maupun kuasa hukumnya.

“Bagaimana mungkin pembayaran sebagai kompensasi kepemilikan saham yang dibayarkan sebelum ada niat mundur dari seorang persero. Perlu di ketahui bahwa saya mengajukan pengunduran diri pada tahun 2001 hingga pada hari ini, dan saya belum pernah menerima sepeserpun uang yang di klaim Purnomo CS sebagai pembayaran kompensasi kepemilikan saham. Purnomo CS sudah melakukan kebohongan besar kepada publik,” gerutunya.

Lebih lanjut Mintarsih menambahkan, kendati demikian berharap dan sangat yakin berdasarkan seluruh pendapat saksi ahli baik dari pihak kami maupun dari pihak purnomo cs telah sependapat bahwa baik pengurus maupun persero yang mundur harus dan wajib di berikan penggantian saham yang sesuai haknya dan sesuai nilai yang berlaku. Proses penggantian tersebut harus dilakukan secara musyawarah dan mufakat.

“Saya meminta agar PT Blue Bird tidak menggelar IPO (Initial Public Offering) dan penolakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) atas niat PT Blue Bird yang akan melangsungkan penawaran perdana  (IPO) sebelum beberapa dokumen yang harus di lengkapinya,”pungkasnya. @winarko