LENSAINDONESIA.COM: Pasca Natal dan menjelang Tahun Baru 2014, berbagai komuditi pangan, di Jawa Timur harganya terus merangkak naik.

Berdasarkan pantauan dari tiga pasar besar di Surabaya, diantaranya Pasar Keputran, Pasar Pucang dan Pasar Mangga Dua, ada lima komoditas yang melonjak lebih dari 30 persen. Kelimanya adalah cabe, kacang panjang, tomat, buncis dan timun.

Cabe rawit misalnya, semula harganya antara Rp 22.500 hingga Rp 24.000 perkilo, kini menjadi Rp 32.000 perkilonya. Sedangkan, cabe merah besar, yang sebelumnya hanya seharga Rp 26.000 sampai Rp 27.000 perkilonya, menjadi seharga Rp 35.000 perkilonya.

Hasan (45), salah seorang pedagang cabe di Pasar Tradisional Keputran mengatakan, kenaikkan sejumlah harga ini pada dasarnya karena kelangkaan pasokan dari distributor atau pengepul yang diduga sengaja melakukan penimbunan.

“Memang, harga lombok (cabe) saat ini naik drastis. Soalnya, kalau dari petani sendiri sih, gak bakal menandon stok lombok ini. Ya, walaupun ada satu atau dua petani yang seperti itu. Tapi, sebagian besar ini sih ulah para pengepul, yang ujung-ujungnya berimbas pada pedagang,” jelas Hasan pada LICOM, saat ditemui di Stan dagangnya, Jumat (27/12/2013) dini hari.

Sayur mayur kenaikannya malah mencapai 100 persen. seperti buncis, yang sebelumnya Rp 5000 hungga Rp 6000, sekarang menjadi Rp 9000 sampai Rp 10.000 per kilonya.

Selain Hasan, Siti Aminah (39), pedagang kacang panjang di Pasar Pucang juga mengatakan, biasanya ia menjual dagangannnya seharga Rp 4000-Rp 4.500 perkilonya. kini dia naikkan menjadi Rp 8.000 hingga Rp 9.000.

“Ya, mau gimana lagi, kami sih cuma mengikuti situasi dengan sesama pedagang. Kalau naik satu, ya yang lain juga ikut naik. Lagian, barangnya cuma sedikit. Mungkin karena jumlah pasokan yang menipis atau bisa jadi karena dari sananya (Petani) diborong distributor untuk di masukan ke swalayan atau restoran,” begutui anggapan Siti Aminah.

Sementara timun, sebelumnya berada pada kisaran harga Rp 4.000 – Rp 5.000, menjadi seharga Rp 7.500 sampai Rp 9.000. Menurut sebagian pedagang, kanaikan ini sudah lazim setiap tahunnya, tapi tidak sebesar ini.@dony