LENSAINDONESIA.COM: Untuk pertama kalinya industri ganja rekreasi di Amerika Serikat dibuka di Colorado. Alhasil, sejak dibuka, hingga Sabtu (4/1/2014), toko-toko penjual ganja langsung dipadati pembeli.

Legalisasi dianggap merupakan alternatif yang lebih baik daripada perang mahal yang dipimpin AS terhadap Narkoba. “Jujur, saya pikir saya tidak akan pernah melihat hari,” kata Errin Reaume, yang berbagi ganja dengan rekannya dalam pesta bertema `Larangan Telah Berakhir` dengan mengambil gaya era 1920-an.

Sejak dilegalkan pekan lalu, toko ganja di kota ini tak pernah sepi pembeli. Antrean panjang terlihat di sebuat toko yang menjual ganja di Pueblo West.

Banyak pihak khawatir, legalisasi ganja akan membuat banyak remaja menjadi pecandu meskipun batas usia minimum bagi konsumen dipatok pada usia 21 tahun.

Colorado menyetujui legalisasi ganja pada pengujung 2013. Negara bagian Washington segera menyusul, yang dijadwalkan akan dibuka pada pertengahan 2014. Uruguay mengeluarkan peraturan pada Desember untuk menjadi negara pertama yang melegalkan ganja.

Pendukung legalisasi ganja berpendapat, ganja akan menghasilkan pendapatan bagi negara dan menghemat uang dengan tidak harus memenjarakan begitu banyak pelanggarnya. Setidaknya kini ada 24 toko ganja di delapan kota di Colorado.

“Aku akan membingkai struk pembelian ketika sampai di rumah, untuk dikenang,” kata James Aaron Ramsey, yang menjalani hukuman penjara singkat karena memiliki ganja kurang dari satu tahun.

Colorado menyiapkan segala sistemnya sebelum toko ganja pertama beroperasi. Mereka mendirikan sistem pelacakan untuk menjaga agar ganja tak lari ke pasar gelap. Selain itu, dibuat regulasi untuk mengatur pengemasan, pelabelan, dan persyaratan pengujian, bersama dengan batas maksimal konsumsi. @yh/LI-14