LENSAINDONESIA.COM: Di tengah kenaikan harga LPG yang mencekik masyarakat, PT Pertamina tetap meneruskan pembangunan gedung Pertamina Energy Tower. Gedung ini dirancang menjadi yang tertinggi di Indonesia bahkan tertinggi di Asia Tenggara.

Gedung yang akan dibangun memiliki ketinggian sekitar 530 meter, 99 lantai dan luas total bangunan sekitar 540 ribu m2 di atas lahan seluas 5,7 ha.

Pembangunan gedung penunjang (utility building) diperkirakan akan selesai tahun 2014 ini dan secara keseluruhan gedung diperkirakan selesai di tahun 2020.

Salah satu tujuan pendirian gedung Pertamina Energi Tower untuk memenuhi kebutuhan ruang kantor bagi PT Pertamina dan seluruh anak perusahaannya dengan kapasitas sekitar 23 ribu pekerja.

Proyek pembangunan gedung melibatkan perusahaan luar negeri yakni, Skidmore Owings Merril sebagai konsultan utama dan Turner International sebagai konsultan project management yang keduanya terlibat dalam penggarapan proyek fenomenal gedung tertinggi di dunia Burj al Khlifa, Dubai-UEA serta Rider Levett Bucnall sebagai konsultan quantity surveyor.

Dari dalam negeri, proyek ini melibatkan PT Airmas Asri sebagai konsultan arsitek dan PT Wiratman & Associates sebagai konsultan struktur, KSO PT Pembangunan Perumahan dan PT Hutama Karya sebagai pelaksana proyek Central Energy Plant.

Melihat situasi ini, Direktur Eksekutif Indonesia Energi Monitoring (Indering), Zuli Hendriyanto menuturkan, anggaran yang dikeluarkan dalam pembangunan gedung Pertamina Energy Tower ini jumlahnya tidak sedikit. Untuk pembangunan gedung penunjang saja memerlukan anggaran sekitar Rp 200 miliar. Belum lagi anggaran keseluruhan.

“Pembangunan gedung tersebut akan mendapat dukungan dari berbagai pihak asalkan pendiriannya bertujuan memajukan kinerja SDM PT Pertamina dan seluruh anak perusahaanya dan untuk meningkatkan pengelolaan serta pemanfaatan Migas yang lebih baik sehingga kemandirian dan ketahanan energi nasional dapat terwujud,” kata Zuli Hendriyanto dalam surat elektroniknya pada LICOM, Senin (06/01/2014).

Indering mendesak agar PT Pertamina menjelaskan dari mana anggaran pembangunan gedung Pertamina Energy Tower berasal dan penggunaan anggaran harus transparan serta dapat dipertanggung jawabkan oleh PT Pertamina dan semua perusahaan yang terkait.

Kemudian, dalam proses pembangunan gedung jangan ada penyalahgunaan anggaran dan wewenang yang akan merugikan keuangan dan perekonomian negara yang nantinya tambah menyengsarakan rakyat.

Indering menginginkan Pertamina Energy Tower nantinya bukan hanya untuk menjadi gedung tertinggi di Indonesia dan Asia Tenggara tetapi harus betul-betul dimanfaatkan untuk mendorong PT Pertamina menjadi perusahaan BUMN kelas dunia yang menjadi kebanggaan Indonesia.@licom