LENSAINDONESIA.COM: Sebuah gelaran seni yang menampilkan salah satu maestro lukis tanah air Mozes Misdy. Eksistensi dalam dunia seni telah banyak menginspirasi dan menjadi sebuah referensi bagi pelukis-pelukis di Indonesia. Denyut hidup yang telah dirasakan perlu kiranya diekspresikan menjadi sebuah karya yang terus menerus mengalir bak air yang tak kenal hentinya. Demikiandikatakan Pelukis Mozes Misdy saat pameran tunggalnya bertajuk Mutiara dari Timur di Jakarta, beberapa waktu lalu.

“Kami sangat bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas`pemberian karunia dan talenta yang telah diberikan-Nya terlebih lagi dalam menjalani profesi sebagai pelukis seperti yang saya jalani ini. Saya mulai melukis tahun 1969 di Kuala Lumpur, Malaysia, kami pijakkan langkah awal kemudian ke Perth, Darwin, Casuarina di Australia tahun 1974 hingga pameran di Bangkok, bermodalkan semangat dan keyakinan penuh dalam berkarya dengan melalui proses itu dan waktru itu kami punya modal hanya 5 dollar,” kenangnya.

Ia menjelaskan, sejak tahun 1967 hingga kini sudah berpuluh-puluh kali berpameran hingga ratusan kali pula sudah melewati pameran tunggal dan semua itu tidak semata-mata karena materi yang di cari, melainkan langkah maju yang terus diambil untuk setiap wujud tanggung jawab profesi dan kasih dalam berkarya.

“Kami tidak lupa pula sebagai dedikasi terhadap generasi yang mesti terus dilanjutkan, kami wujudkan dalam museum sederhana yang merangkum setiap jengkal langkah dalam berkarya. Ini semua semata-mata karena tiap insane sadar bahwa hidup hanya sekali, semoga setiap pekerjaan yang telah terselesaikan memiliki manfaat banyak orang. Kami dalam menyelesaikan lukisan tergantung mood bisa 1 hari hingga 4 hari dengan ukuran kanvas 400 X 135, karena lukisan saya ini ekspresionisme, harus cepat di selesaikan, kalau di tunda lukisannya malah tidak bagus. Dalam pameran ini lukisan berharga mulai dari 37,5 juta hingga 500 juta tergantung ukurannya,” kata pelukis yang bergaya Ekspresionisme ini.

Sementara itu Mantan kasad Jenderal TNI (Purn) Djoko Santoso mengatakan, sangat luar biasa lukisan tunggal Mozes Misdy ini yang mengejawantahkan id eke dalam sebuah media seni kanvas dengan guratan pisau palet yang tidak sembarang orang bisa menguasai teknik ini menghasilkan karya-karya yang monumental.

“Mozes Misdy merupakan maestro yang terbentuk dari tempaan alam yang luar biasa. Tekadnya menjadi seorang pelukis secara otodidak, disempurnakan dengan talentayang memang telah ia milikimenghasilkan lukisan-lukisan penuh emosi, ekspresif yang diperoleh dari guratan tinta minyak. Lukisan-lukisan yang dihasilkan oleh Mozes Misdy yang diantaranya lukisan perahu, sosok nelayan yang digambarkan Mozes melambangkan sifat-sifat keprajuritan, gagah, berani, pantang menyerah dan berpasrah pada Tuhan yang Maha Esa, sedangkan sifat perahu menjadi symbol persatuan dan kesatuan yang kokoh bagi nelayan-nelayan ,” terang Djoko.

Untuk itu, kata Djoko, dalam pameran tunggal Mozes`Misdy ini bisa dijadikan sarana, tidak hanya bagi penggiat seni tetapi juga setiap pecinta senia yang kemudian dapat memperluas kesempatan bagi masyarakat yang memiliki minat terhadap lukisannya.

“Kami berikan apresiasi yang setinggi-tingginya buah karya sang maestro Mozes Misdy dan kalau bisa terus buat karya sebanyak-banyaknya,” pungkasnya.

Dalam pameran tunggal Mozes Misdy dihadiri pelukis ternama yakni H Agus Salim ‘Bebek’ asal Semarang, Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas, Ketua Penyelanggara Mozes M Art Gallery Dra Rini Damayanti, Seniman Pasar Seni Ancol. @winarko