LENSAINDONESIA.COM: Petani di Kabupaten Bojonegoro,Jawa Timur kalang kabut akibat harga pupuk melambung. Pasalnya, stok pupuk di pasaran mulai langka, sehingga sangat sulit didapatkan. Bahkan,petani juga mempertanyakan pemerintah membiarkan kondisi ini, sementara mencanangkan Bojonegoro lumbung padi.

Menanggapi hal itu, Menteri Pertanian Suswono mengakui bahwa stock Pupuk di Bojonegoro terhambat, karena ada
Komisi Pengawas Petugas Pestisida (KP3). Tapi, bukan berarti pupuk di kabupaten lumbung padi itu langka.

“Itu berarti ada masalah di KP3-nya komisi pengawas petugas pestisida,” ucap Suswono Menteri Pertanian Kepada
LICOM sembari jalan koridor Kantor Bulog, Jakarta, Rabu (22/1/14).

Selain itu, Menteri Pertanian juga membantah keras adanya Pupuk Urea yang langka di Bojonegoro. “Tidak ada alasan tidak distribusi karena pupuk kita ada,” tegasnya, mempertanyakan tanggungjawab Bupati.

Selanjutnya, Suswono mengatakan pendistribusian pupuk Urea yang langka tergantung dari peraturan bupati setempat.
“Udah, sudah ada Permentan-nya, peraturan Bupati sudah ada apa belum? Kalau peraturan Bupati sudah ada, pasti
sudah jalan,” kata Suswono.

Suswono juga menegaskan bahwa tak ada kenaikan harga pupuk yang langka, mengingat pupuk Urea masih langka. “Gak ada, nggak ada, tidak ada kenaikan harga pupuk,” tegasnya, menekankan bahwa kalau terjadi masalah itu merupakan tanggungawab bupati setempat.

Sebelumnya, informasi yang dihimpun LICOM, sejumlah wilayah kecamatan di Bojonegoro kesulitan pupuk. Di antaranya, Balen, Sumberrejo, Kapas, Kalitidu dan Kecamatan Kanor.

“Pupuk jenis Urea langka dan mahal sejak awal tanam padi. Banyak petani yang tidak bisa beli. Jadi kualitas padi dan buahnya menjadi kurang bagus,” ungkap Darminto, seorang petani asal Kecamatan Balen, Sabtu (28/12/2013).

Sebulan terakhir, harga pupuk urea di wilayah Bojonegoro melonjak tak terkendali hingga Rp 130.000,- per sak.
Padahal, sebelumnya harga hanya Rp 95.000,- per sak.

Sementara itu, Suparto petani wilayah Sumberejo juga menyampaikan, stok pupuk jenis organik di wiyahnya memang cukup. Namun petani kurang sreg memakainya sebab hasilnya kurang maksimal untuk tanaman. “Tidak seperti pupuk Urea yang sudah nyata kesuburannya untuk padi,” ujarnya.

Sejumlah petani berharap, pemerintah segera merespon kelangkaan pupuk saat ini. Menurut Suparto, kelangkanya pupuk
tersebut semakin menambah kesengsaraan bagi para petani di Bojonegoro. Pasalnya, ribuan sawah padi di area dekat
bengawan Solo tersebut telah ludes di hajar banjir Sungai Bengawan Solo, Minggu lalu.

“Meski pupuk harganya mahal, para petani masih membelinya karena lagi butuh. Namun, bila kondisi seperti ini dibiarkan terjadi, maka patut dipertanyakan kalau Bojonegoro saat ini dicanangkan sebagai daerah lumbung pangan dan energi,” tutupnya @rina.