LENSAINDONESIA.COM: Dewan Kehormatan (DK) Peradi (Perhimpunan Advokat Indonesia) Jatim Kembali memecat anggotanya. Kali ini, DK Peradi mengadili dan menjatuhkan putusan pemecatan terhadap Azhar Pasaribu seorang advokat dengan no induk C.10.01 555 warga Sentani Raya C 4, E 35 A Malang yang telah melanggar kode etik sebagai penegak hukum.

Ketua Majelis Kehormatan Daerah Peradi Jawa Timur Soewito menyatakan bahwa teradu atau Azhar Pasaribu agar menyerahkan kembali Kartu Tanda Pengenal Advokat yang diterbitkan oleh Dewan Pimpinan Nasional Perhimpunan Advokat Indonesia kepada Sekretariat Dewan Kehormatan Peradi Jawa Timur.

Putusan ini tertuang dalam rapat permusyawaratan Majelis Kehormatan berdasarkan Penetapan Ketua Dewan Kehormatan Daerah Peradi Jatim No 621/ Peradi/ DK-Jatim/ PMK/ IX/ 2013.

Dalam amar putusannya, Soewito menyebutkan jika Azhar sebagai teradu telah diadukan oleh Gregorius Rudy Katopo warga Manyar Tirtomoyo 8/38 RT 05 RW 04 Menur Pumpungan Sukolilo yang selanjutnya disebut pengadu.

Dalam kasus tersebut, pengadu menyatakan bahwa Azhar melakukan perbuatan penebangan secara liar dan main hakim sendiri atas beberapa pohon jati milik Pengadu serta melakukan pemasangan papan pengumuman tanpa ijin Pengadu di wilayah Pasuruan. “Perbuatan tersebut melanggar kode etik peraturan perundang-undangan sebagaimana diatur dalam pasal 6 huruf e dari UU no 18 tahun 2013,” kata Soewito.

Soewito juga menyebut, teradu juga tidak menghargai dan menghormati persidangan, walaupun sudah diperingatkan namun selalu diulang-ulang melakukan keributan di persidangan. “Teradu juga tidak segan-segan mengucapkan kata-kata yang tidak pantas di muka persidangan,” sambungnya.

Tak hanya itu, dalam sidang putusan (24/1/2014) ini, teradu juga tidak hadir dalam persidangan.

Sementara itu, selain menjatuhkan vonis pemberhentian tetap, teradu Azhar juga dikenakan membayar biaya perkara Rp 3,5 juta. “Sesuai pasal 6e, 7 dari UU no 18 tahun 2013, Pasal 13, 14, 15, 16 Kode Etik Advokat Indonesia serta semua peraturan yang berlaku,” ujarnya.

Kasus ini sendiri bermula dari Gregorius Rudy menyewa tanah terhadap Iskhak di daerah Pasuruan yang kemudian ditanami pohon Jati. Pohon Jati tersebut kemudian ditebang oleh Siswono dengan Azhar Pasaribu pada 14 Juli, 22 Agustus dan 9 September yang kesemuanya terjadi pada tahun 2013.

Atas perbuatan Siswono dengan Azhar, pengadu Gregorius Rudy mengalami kerugian Rp 400 juta serta tidak bisa lagi menguasai dan menggarap atas lahan yang pengadu sewa.@ian