LENSAINDONESIA.COM: Mantan Ketua Umum Partai Golkar, Jusuf Kalla (JK) mengakui bahwa partai yang dulu pernah dipimpinnya akan sulit bertarung dalam perhelatan demokrasi Pemilu 2014. Kerena itu lanjut JK, Golkar dituntut bekerja dengan membuat strategi yang berbeda dengan partai lain.

Hal ini diakuinya saat menyampaikan sambutannya di acara DPP Partai Golkar, di Jakarta, Minggu (26/01/14).

“Partai ada dua macam, pemerintah dan opoisisi. Golkar tidak pernah oposisi, kalah pun tetap ada dalam pemerintahan. Artinya Golkar harus berbeda cara kampanyenya, beda dengan Demokrat dan PDIP,” ujar JK dalam sambutannya yang dipandu oleh moderator Hakim Kamarudin.

Dalam kesempatan ini, mantan Wakil Presiden RI ini juga menejelaskan, perjalanan partai Golkar dalam berhadapan dengan kekuasaan yang selalu menereapkan posisi dua kaki yakni oposisi dan koalisi.

Satu sisi Golkar mendukung kebijakan pemerintah dan di sisi lainnya partai beringin ini sering mengkritik kinerja pemerintah.

Lebih lanjut, JK yang saat ini menjadi Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI) menjelaskan, bahwa Golkar tak bisa mengkritisi jalannya pemerintahan. Jika itu dilakukan, akan berdampak pada partai. Sebab, menteri-menteri yang bekerja dalam pemerintahan juga berasal dari Golkar.

“Beda dengan PDIP. Selain kita membela diri, artinya kita harus menjadi partai koalisi yang kritis,” jelasnya.

Hal itulah yang menyulitkan posisi Golkar dalam berkampanye di pemilu, karena tidak bisa secara penuh mengklaim kinerjanya selama lima tahun pemerintahan.

“Makanya, Golkar disebut partai karya, jadi harus menyusun lagi,” pungkas laki-laki berperawakan mungil ini. @firdausi