Advertisement

LENSAINDONESIA.COM: Nama Yudhi Purnomo mungkin terasa asing ditelinga banyak masyarakat di Indonesia saat ini. Namun, sepak terjangnya di dunia atletik era 80’an, mampu membawa nama besar Indonesia di berbagai kejuaraan atletik di seluruh dunia. Selain berhasil menduduki posisi ke 4 pelari tercepat nomor 100m dalam Olimpiade Los Angeles yang berlangsung di tahun 1984. Pria kelahiran 21 april 1961 juga pernah menyandang predikat sebagai pelari tercepat di Asia pada masa ke-emasan’nya. Namun kini, Yudhi justru memilih banting stir dan terjun langsung ke dunia politik.

Menurutnya, hal ini dilakukan lantaran kekecewaannya melihat kemerosotan prestasi yang bisa dicapai Indonesia dalam dunia olahraga. Dengan masuk kedalam sistem pemerintahan, ia berharap bisa secara langsung menyuarakan dan turut memperjuangkan nasib para pejuang olahraga di Indonesia.

“Hal pertama yang membuat saya terpanggil adalah keadaan olahraga di Indonesia. Saya ingin memperjuangkan hak-hak para atlit. Pemerintah sangat tidak serius dalam membenahi olahraga,” ujar Yudhi.

“Kami para mantan atlet punya kemarahan yang sama kepada para aktor politik yang telah meghancurkan olahraga. Untuk itu saya berharap bisa kembali mengangkat derajat gengsi dan nama baik olahraga,” ungkapnya.

“Harus ada orang yang mengerti betul soal olahraga untuk memperjuangkan nasib olahraga. Mereka yang ada sekarang jumlahnya masih sangat kurang,” tambah Yudhi.

Hingga saat ini, pemerintah dianggap masih belum bisa menyediakan infrastruktur yang layak guna menunjang cabang-cabang olahraga dalam memenuhi target prestasi bagi Indonesia. Padahal pada kenyataannya, olahraga adalah salah satu alat untuk meningkatkan kualitas sebuah bangsa di mata dunia.

“Coba lihat infrastruktur yang kita punya, sebagian besar masih jauh dari kata layak. Padahal olahraga adalah salah satu alat untuk membangun bangsa. Pemerintah harusnya tau itu,” terangnya.

“Dengan prestasi dibidang olahraga, sebuah negara bisa mengangkat derajatnya di mata dunia. Ini yang coba kami suarakan,” pungkasnya. @muhammadrusjdi