LENSAINDONESIA.COM: BNN telah berhasil ungkap sindikat Internasional narkotika asal Belanda dan Pakistan dan berakhir sudah karir TJM (35) yang bekerja di Jakarta selama 12 tahun menjadi guru terpaksa diamankan pihak BNN bersama kekasihnya LA (22) disebuah apartemen di kawasan Jalan Raya Kembangan Jakarta Barat. Mereka dianggap harus mempertanggungjawabkan perbuatannya atas kepemilikan 98 butir ekstasi asal Belanda.

Hal ini dikatakan oleh Kepala Bagian Humas BNN Kombes Pol Sumirat Dwiyanto usai pemusnahan barang bukti narkotika Golongan I jenis sabu sebanyak 939,7 gram, heroin 1.554,3 gram dan ekstasi 88 butir di lapangan parkir BNN, Cawang, Jakarta Timur, Selasa (4/2/14).

“TJM (35) ditangkap di sebuah apartemen kawasan kembangan beserta barang buktinya ekstasi berlogo Superman berasal dari Belanda dengan berat 98 butir (33,56). Berawal dari kecurigaan pihak Kantor Pos Pasar Baru terhadap sebuah paket atas nama Melissa Yansen yang di tujukan kepada TJM, setelah dilakukan pemeriksaan dengan x-ray petugas meyakini paket tersebut adalah berisi narkotika,” ujar Sumirat.

“Tim BNN melakukan pengembangan dan berhasil mengamankan TJM di kediamannya saat ia mengambil paket tersebut dari kotak surat apartemennya, lalu tim kami melakukan penggeledahan di lakukan di kamar TJM dan petugas menemukan barang bukti lainnya berupa ganja seberat 2,3 gram,” imbuhnya.

Saat dilakukan pemeriksaan, kata Sumirat, kekasih TJM berinisial LA menelpon dan menanyakan kiriman tersebut, akhirnya petugas meminta TJM menemui LA di sebuah rumah sakit swasta di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Petugaspun mengamankan pemeriksaan di kamar kosnya dan berhasil menemukan 5,57 gram ganja milik LA, lalu petugas membawa ke dua tersangka dan seluruh barang bukti untuk di lakukan pemeriksaan lanjut.

“Kedua tersangka terancam pasal 114 ayat 2, pasal 113 ayat 2 jo pasal 132 ayat 1, pasal 112 ayat 2, pasal 111 ayat 1 Undang-undang no. 35 Tahun Narkotika dengan ancaman maksimal hukuman mati atau seumur hidup,” terangnya.

Sumirat juga mengatakan, pihak BNN juga berhasil mengungkap penyelundupan 1.564,3 gram heroin dan 942,2 gram sabu asal Pakistan dan kedua barang terlarang tersebut sudah diamankan dari tangan para sindikat internasional melibatkan pria asal Pakistan berinisial SUK alias Um, kasus inipun menyeret warga Negara Indonesia berinisial TR bersama rekannya wanitanya.

“Kronologis penangkapan jaringan narkoba asal Pakistan ini dengan diamankan Um oleh petugas di Hotel Neo di Kawasan Mangga Dua. Berawal TR yang tertangkap di perintahkan RLS (43) alias SA untuk mengambil tas dari tangan Um yang berisikan heroin 1.564,3 dan sabu 942,2 gram lalu TR mengambil tas tersebut di pelataran Hotel Novotel pada Rabu (8/1/14), TR membawa tas tersebut ke rumahnya di Kecamatan Beji, Kota Depok dan disanalah keesokan harinya petugas berhasil membekuk TR,” jelas Sumirat.

Selain itu Sumirat menambahkan, setelah dilakukan pemeriksaan TR di ketahui dirinya bekerja atas perintah RLS atau SA (43) dan tim petugas BNN melakukan pengembangan dan menangkap SA di rumahnya di perumahan Cinere pada pukul 01.30 WIB. Ternyata SA sudah berkecimpung dalam jaringan narkoba sejak Oktober 2013, SA mendapatkan upah sebesar 1 juta dari setiap transaksi.

“Dari hasil tersebut di bagi dua dengan Tr, kepada petugas ia mengaku menjalankan bisnis haram ini demi menghidupi ke 5 anaknya. Sebelum menjalankan perannya sebagai pengedar Narkoba, SA berprofesi sebagai pengantar wanita–wanita nakal bagi para hidung belang kebanyakan pria asing. Tiga jam berselang dari penangkapan SA, kemudian tim BNN mengamankan Um di sebuah Hotel Mangga Dua dari setiap transaksi Um mendapatkan US$ 1.000. Atas perbuatannya tersangka terancam pasal 114 Jo pasal 132 ayat 1, Subsider pasal 112 ayat 2 Jo pasal 132 ayat 1, lebih subside pasal 137 huruf (a)dan (b) dengan maksimal hukuman pidana mati atau penjara seumur hidup sesuai Undang-undang No.35 tahun 2009 tentang Narkotika,” pungkasnya. @winarko