LENSAINDONESIA.COM: Para terdakwa aliran Sunni dalam perusakan Ponpes Darus Sholihin pimpinan Habib Ali al Habsy pada kasus kerusuhan Syiah-Sunni di Puger Jember akhirnya dituntut tiga tahun penjara oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Dalam sidang, Rabu (5/2/2014) di PN Surabaya ini, ketujuh terdakwa yakni Sapan (nelayan), Ridoi, Sutrisno, Jajuli, Maskur, M Suwito (buruh tani) dan Hamim dinyatakan bersalah lantaran melakukan pengerusakan yang merugikan orang lain. “Meminta majelis hakim memberikan hukuman tiga tahun penjara kepada para terdakwa,” ujar Jaksa Anak Agung Gede.

Dalam dakwaannya, JPU Anak Agung Gede Hendrawan memaparkan perbuatan tujuh terdakwa dipicu Pawai Karnaval 17 Agustus yang akan diselenggarakan Ponpes Darus Sholihin pimpinan Habib Ali al Habsy.

Menurut NU dan MUI Jember, Ponpes itu sejak lama ditengarai menganut paham Syiah sehingga warga sekitar menolak pawai yang digelar. Apalagi sebelumnya telah ada perjanjian dengan warga agar acara-acara serupa tidak dilakukan secara terbuka di luar pondok pesantren.

Acara ini juga tak mendapat izin aparat kepolisian karena dikhawatirkan terjadi hal-hal tak diinginkan. Sayangnya, penolakan warga rupanya tak digubris, dimana Ponpes Darus Sholihin tetap melakukan kegiatan di luar kompleks pesantren pada Rabu (11/9).

Sekitar 30 orang dari kelompok pengajian Nurul Mustofa pimpinan Ustadz Fauzi (NU) lalu menyerbu lokasi Ponpes Darus Sholihin guna membubarkan paksa acara karnaval sambil membawa pentungan kayu. Akibatnya terjadi entrok dan rusaknya beberapa bangunan. Muncullah aksi balasan, dimana sekitar 20 orang yang diduga pendukung Habib Ali al Habsy menyerang Eko Mardianto.

Mereka merusak masjid dan SMK Darus Solihin. Kerugian sekitar Rp 100 juta.Atas perbuatan itu, JPU kemudian menjerat tujuh terdakwa dengan pasal 170 ayat 1 KUHP. @ian