LENSAINDONESIA.COM: Para pengusaha UMKM kerap kebingungan, ketika dihadapkan dengan ekspansi produk pabrik-pabrik besar dan mapan. Utamanya dihadapkan pada persoalan teknologi.

M. Rizal, Wakil Ketua Umum Kadin Jatim, Bidang UMKM memaparkan, jika tidak ada pendekatan teknologi dan penumbuhan budaya inovasi, UMKM cepat atau lambat akan mati. Setidak, sulit berkembang dan selamanya jadi pemain medioker alias menengah.

“Padahal, UMKM berhadapan dengan bisnis besar yang sangat peka teknologi dan inovasi, sehingga lebih efisien dan lebih bisa mengikuti perubahan di pasar,” kata Rizal kepada LICOM di Surabaya. Senin (10/2/2014).

Dalam hal ini, Kadin Jatim telah membentuk Kadin Institute yang fokus untuk meningkatkan daya saing UMKM melalui pendekatan teknologi. Pihaknya juga berharap pada pihak lain, terutama swasta dan BUMN, ikut menjadi mitra bagi UMKM dari sisi peningkatan teknologinya.

“Swasta dan BUMN harus sama-sama ikut membentuk komunitas bisnis yang tangguh. Membesarkan UMKM, tidak akan merugikan swasta dan BUMN yang ada, justru akan sama-sama saling memperkuat,” ujarnya.

Selama ini, UMKM nyaris tak didukung dengan riset pasar yang memadai, terkait model promosi, peluang pasar, pesaing, barang substitusi dan komplementer atas produk-produk pengusaha muda, selera konsumen dan tren pasar.

Kondisi ini membuat ekspansi bisnis UMKM sangat terbatas. Sulit bagi pengusaha pemula untuk mengetahui apa yang dibutuhkan pasar. Bersama-sama pemerintah dan dunia usaha, kedepan pelibatan perguruan tinggi harus diintensifkan untuk melakukan riset pasar.

“Misalnya di daerah A butuh produk B, maka UMKM di Jatim harus mengetahui hal itu terlebih dahulu. Butuh semacam market intelligence. Fungsi kantor perwakilan dagang Jatim di beberapa provinsi harus dioptimalkan,” tukasnya.@dony