LENSAINDONESIA.COM: Partai Demokrat tak terima dengan penilaian atas para Capresnya yang kini mengikuti proses di arena konvensi sebagai anak ingusan dalam dunia politik Indonesia.

Penilaian ini sebelumnya dilontarkan elit Partai Golkar, Indra J. Piliang yang menyebut para peserta konvensi Capres Demokrat merupakan orang-orang baru belajar politik.

“Jadi begini, sebelum kita mengoreksi orang lain, sebaiknya kita mengoreksi diri kita,” sindir Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI, Nurhyati Ali Assegaf saat berbincang dengan LICOM, kemarin.

Nurhayati menyebut, pelajaran politik sebenarnya sudah mulai dilakukan warga Indonesia sejak menginjak usia 18 tahun atau sudah menikah. Hal itu ditandai dengan diberikannya hak pilih oleh undang-undang.

“Itu berarti kita sudah belajar berpolitik. Karena kita harus tahu partai apa yang akan kita pilih dan siapa yang kita pilih,” kata Nurhayati.

Atas dasar itu, Nurhayati menolak penilaian dari Partai Golkar yang menyebut 11 peserta konvensi Capres Demokrat sebagai orang yang baru belajar berpolitik.

“Jadi exercise politik itu tidak harus menjadi calon presiden, tetapi sejak sudah memiliki hak untuk memilih dan dipilih. Jadi jangan menganggap orang ketika mau menjadi Capres baru belajar politik,” tandas Nurhayati.

Sebelumnya, Ketua Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) DPP Partai Golkar, Indra J. Piliang mengritik beberapa peserta konvensi Capres Demokrat yang terkesan masih belajar dalam politik.

“Mereka mengatakan terkejut melihat ini dan itu. Ini menandakan sedang mengalami culture shock masuk dalam dunia politik,” kata Indra.

Dia mencontohkan sikap Dino Patti Djalal yang mengatakan pondok pesantren di Indonesia lebih bagus dibanding sekolah di Amerika Serikat.

Sikap itu, menurut Indra, menunjukkan trademark Dino masih Amerikasentris yang selalu mengaitkan berbagai hal di Indonesia dengan Amerika.@endang