LENSAINDONESIA.COM: Dana program Bantuan Siswa Miskin (BSM) di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur diduga ‘dimainkan’ oleh pihak sekolah.

Di lingkup UPT Dinas Penididikan Kecamatan Turi, beberapa waktu lalu heboh dengan kasus dugaan korupsi dana BSM puluhan juta rupiaj dengan modus pengadaan buku LKS. Kini kasus serupa kembali terulang di  SMK PGRI Babat, lingkup UPT Dinas Pendidikan Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan.

Di sekolah ini, sebanyak 296 siswa mendapat bantuan program BSM Rp 207.200.000 atau RP 700 ribu tiap siswa. Meski anggaran kompensasi BBM tersebut sudah dicairkan sejak Januari 2014 lalu, namun hingga kini dana tersebut tidak kunjung dibagikan. Dugaan sementara, dana ratusan juta tersebut sengaja diendapkan oleh pihak sekolah.

Seorang orang tua murid berinisial MP kecewa dengan kebijakan sekolah tersebut. “Dana BSM sudah dicairkan bulan Januari kemarin, mengapa kok sampai sekarang belum juga di berikan,” keluhnya saat ditemui lensaindosia.com.

Terkait masalah ini, Kepala Sekolah SMK PGRI Babat, M. Nurul Hilal ketika dikonfirmasi mengatakan pihaknya sengaja tidak membagikan uang tersebut kepada siswa yang berhak menerimanya sebab khawatir habis. Ia mengaku, uang BSM tersebut dialokasikan untuk SPP bulanan sebesar Rp 50 ribu. “Uang itu kita pakai untuk bayar SPP siswa penerima BSM. SPP di sini Rp 50 ribu per bulan,” ucapnya.

Pernyataan Nurul Hilal yang mengaku dana BSM untuk membayar SPP tersebut dibantah pihak siswa. Sebab sampai saat ini para siswa masih dipungut biaya SPP. “Kita masih ditarik SPP kok,” ungkap MP.

Kabar yang berkembang, sejumlah orang tua murid akan melaporkan persoalan ini kepada Dinas Pendidikan.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Lamongan Agus Suyanta membenarkan bila pelaksanaan program BSM masih banyak terjadi persoalan. Ia pun berjanji segera menindak lanjuti permasalahan tersebut.

“Memang benar pelaksanaan BSM selama ini masih banyak persoalan. Masyarakat jangan khawatir, kami segera tindak lanjuti,” tegasnya.@ali muhtar