LENSAINDONESIA.COM: Meski penahanan resmi dilakukan Kejati Jatim terhadap dua tersangka kasus dugaan penyimpangan pembangunan gedung Dirjen Kanwil Bea Cukai Jatim, Selasa (4/3/2014), namun ternyata salah seorang pelaku telah mengembalikan sebagian uang kerugian negara yang mencapai  Rp 1,9 miliar dengan cara nyicil.

Kasi Penyidikan Pidana Khusus (Pidsus) Kejati Jatim, M Rohmadi menjelaskan, proyek ini terkait tahap II pembangunan gedung Dirjen Kanwil Bea Cukai. “Proyek pembangunan ini baik yang tahap pertama dan kedua, totalnya mencapai Rp 32 miliar. Kerugian sekitar Rp 1,9 miliar,” ujarnya kepada Lensa Indonesia, Selasa (4/3/2014).

Meski ada kerugian sebesar itu, namun Rohmadi mengakui bahwa salah seorang tersangka, yakni Direktur PT Bintang Timur Nangdi, Nanang N, telah mengembalikan sebagian kerugian negara itu. Nanang sudah mengembalikan uang sebesar Rp 1 miliar. “Kerugian negara ini memang dinikmati rekanan proyek, sehingga Nanang mengembalikan kerugian ini,” ujarnya.

Untuk diketahui, pembangunan gedung Kanwil Bea dan Cukai Jatim ini dibangun secara bertahap. Tahap pertama yang terdiri atas dua lantai, diselesaikan pada 2011 lalu dengan anggaran APBN sebesar Rp 26 miliar. Lalu untuk tahap dua, pembangunan difokuskan untuk mengerjakan gedung lantai 2 dan 3 dengan anggaran Rp 6,5 miliar.

Namun sayang, hingga target akhir 2012, pembangunan itu tak pernah selesai karena terindikasi terjadi penyimpangan. Kerugian sementara ditaksir mencapai Rp 1,9 miliar. Penyidik telah menetapkan PPK Agus Kuncoro dan Direktur PT Bintang Timur Nangdi, Nanang N, sebagai tersangka dalam pembangunan gedung tahap II. Keduanya, hari ini ditahan selama 20 hari di Rutan Medaeng sebelum berkasnya dilimpahkan ke Pengadilan Tipikor.@ian