Advertisement

LENSAINDONESIA.COM: Perpolitikan hari ini adalah buah dari hasil produk undang-undang politik yang liberal, dimana pengaruh besar terhadap konstituen partai dan calon legislatif secara langsung mendidik pemilih menjadi konstituen yang liberal.

Sistem politik pemilihan langsung (pilsung) mengarahkan partai dan para calegnya  untuk berpropaganda dengan segala cara, jargon politik kerakyatan yang tenggelam di era liberalisme menjadikan uang sebagai propaganda utama untuk meraup suara.

“Saya terima dari informasi dari para KERABAT saya, kini beredar di masyarakat, bahwa sudah ada kordinator yang siap membagikan uang, untuk memilih caleg tertentu. Kita harus mewaspadai serangan fajar (politik uang). Bukan saatnya lagi yang berkuasa naik berdasarkan kekuataan Uang. Semua elemen masyarakat harus memantau itu,” kata Ananda Mustadjab Latip Ketua Divisi Bidang Politik Gerakan Pemuda Anti Korupsi (GEPAK) sekaligus sebagai penggagas berdirinya organisasi kepada Licom, Jakarta, Selasa (08/04/2014).

Seperti halnya yang terjadi pada saat hari terakhir kampanye. Saya dikejutkan oleh para pendukung yang tiba-tiba menyerbu rumah kediaman saya yang mendesak melakukan ikrar untuk tidak berkhianat kepada konstituen bila terpilih menjadi anggota dewan perwakilan rakyat daerah.

“Saya terkejut, para kerabat saya mendatangi kediaman rumah saya untuk melakukan kebulatan tekad kebangsaan warga, dengan Cap jempol darah yang dibubuhi diatas spanduk. Sebagai simbolisasi perlawanan rakyat atas politik uang, anti golput dan mewaspadai kecurangan Pemilu,” jelasnya.

Untuk itu, Ananda berharap warga Jakarta Selatan, khususnya dapil 8 yang meliputi, Kec.Jagakarsa, Kec.Mampang Prapatan, Kec.Pancoran, Kec.Pasar Minggu dan Kec.Tebet, dapat sama-sama mewujudkan kemenangan rakyat.

“Ini adalah perjuangan kita semua. Jika nanti tanggal 9 April rakyat memilih saya. Percaya saya menjadi wakilnya, itu adalah langkah awal perjuangan kita. Ingat rakyat terorganisir pasti menang, MERDEKA.” tandasnya.

Sementara itu, disisi lain, sejak era kejatuhannya Soeharto karena krisis moneter, lembaga moneter duniapun ikut campur tangan dalam melakukan perubahan undang-undang politik bangsa ini. Tak heran kalau perpolitikan kita sangatlah liberal, pengaruh besar terasa saat partai sudah tidak bertanggung jawab lagi atas kualitas anggotanya di DPR.

Selain itu, beberapa dampak dari pilsung adalah munculnya caleg yang tidak mempunyai visi kerakyatan, mereka menjadikan pertarungan dalam meraup konstituen adalah sebagai jenjang untuk menaikan kelas social secara pribadi atau dengan kata lain untuk mendapatkan makom di tengah-tengah masyarakat.

Dampak lain adalah munculnya caleg boneka yang biaya pencalegkannya dibiayai oleh bandar tertentu, yang berspekulasi dan berkepentingan bisnis semata.

“Untuk itulah saya menjadi caleg dari partai yang memiliki sejarah perjuangannya yang panjang. Ingat hanya PDIP partai yang dibangun dengan ‘berdarah-darah’. Dan sudah sewajarnya kalau saya terpilih nanti terus mendorong agar wakil-wakil rakyat dari PDIP khususnya yang di DPRD DKI, hari-makin hari semakin dekat dan semakin progresif dan revolusioner. Agar PDIP benar-benar menjadi alat perjuangan rakyat, guna menata kembali jati diri bangsa yang sesuai dengan fhilosopi yang telah dicetuskan oleh para pendiri bangsa ini, Pancasilais.” kata Ketua bidang Politik dan Ideologi MPC PP Jaksel.

Sebagaimana hasil dalam menampung aspirasi konstituen, dalam kurun waktu 7 bulan ini, sudah banyak hal yang dilakukan oleh calon anggota DPRD Provinsi DKI Jakarta dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Ananda Mustadjab Latip yang doyan blusukan ini. Dalam mendekat diri ke konstituen mulai dari memperkenalkan diri lewat silahturahmi, bertatap muka dengan warga secara langsung, sampai hal-hal yang konkrit berkaitan
dengan kebutuhan warga, yang itu dilakukan berkali-kali mendatangi warga, meski sudah dua kali sampai tiga kali kunjungan ketempat yang sama.

“Saya akan perjuangkan untuk membuat regulasi daerah tentang operasional hansip, tukang sampah dan para lansia. Latar belakang keluarga saya adalah pejuang, berjuang untuk masyarakat dengan cara bertemu langsung face to face dengan konstituen adalah kewajiban, karena dengan cara itu kita bisa tahu aspirasi masyarakat dan harus memperjuangkan apa,” kata Nanda

Untuk diketahui, dengan segala keterbatasannya namun tidak mengurangi pengabdian saya pada masyarakat. hal-hal yang telah saya lakukan melalui kerja konkrit, contohnya, latihan keterampilan khusus ibu-ibu dengan mengolah bungkus plastik kopi dijadikan tas, berkomunikasi dengan para lansia dalam memaparkan perjuangannya, serta membangun MCK umum di beberapa tempat.

Selain itu, menurutnya, sebagai Ibukota Negara, permasalahan di Jakarta bukan hanya itu saja. Ada masalah banjir dan kemacetan. Hal ini bukan hanya tanggung jawab Pemprov DKI saja, tapi juga pemerintah pusat.

“Contohnya masalah banjir dan macet. Inikah harus ada sinergis dengan daerah penyangga. Untuk mengatasi persoalan ini, harus ada campur tangan pemerintah pusat,” tuturnya

Caleg DPRD dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan,  Ananda Mustadjab Latip ini juga akan menciptakan sistem transparansi anggaran APBD  DKI Jakarta yang bisa diakses masyarakat. Pasalnya, informasi mengenai anggaran tersebut tidak diketahui masyarakat dan sangat tertutup.

“Saya pun tak dapat mengakses (rincian APBD) dan detailingnya pun tidak diberitahu, kita tidak tahu untuk apa-apa saja anggaran digunakan,” ujar pria yang akrab disapa Nanda, dengan  nomor urut 12 ini.

Meski di negara manapun rincian anggaran itu tidak dibuka, kata Ananda, namun bila ia terpilih menjadi anggota DPRD DKI Jakarta rincian anggaran itu bisa dibuka.

“Bila rincian anggaran itu dibuka, tentu itu ada efek positif dan negatifnya. Tapi saya akan buka, misalnya saya ada dikomisi A yang membawahi bidang tertentu, saya tahu anggaran dinas, maka saya bisa transparansi itu ke publik. Saya akan bikin web untuk bocorin,” pungkasnya.

“Untuk membangun Jakarta yang berkualitas maka di butuhkan wakil rakyat yang mumpuni dan memiliki program dan visi kebangsaan yang jelas.” pungkasnya. @endang