LENSAINDONESIA.COM: Kali Sentiong di Sunter Jakarta utara, sejak dikeruk mulai awal pekan ini, Senin (14/4/14),
mengundang pengendara yang lalu lalang di jalan Sunter Agung, penasaran. Seperti pemandangan jeda, menoleh sejenak, terasa terhibur.

Ini program normalisasi Kali Sentiong tahap II. Ada 6 eskavator dan 10 tronton yang dikerahkan dalam proses normalisasi kali. Selain ini, juga ada pelebaran Jalan Danau Sunter Barat dari lebar lima meter menjadi 10 meter. APBD warga Jakarta semakin bisa dirasakan, rupanya.

Kesibukan pengerukan ini pun seperti menebar harapan baru bagi warga di Jakarta Utara. Setidaknya saat tiba musim hujan, diharapkan tidak akan ada lagi luapan air sungai meluber ke pemukiman. Resiko banjir pun akan berkurang. Tentu, tidak akan ada lagi kesibukan ekstra warga menguras air banjir di dalam rumah, atau membersihkan tembok dan lantai dari lumpur pasca banjir surut.

Lantaran ada harapan baru, sedikitnya 200 rumah warga dan kios di bantaran kali di sisi Jalan Sunter Agung
saat dibongkar serentak Minggu (13/4/2014), tidak terjadi keributan. Malahan, warga cukup kooperatif dan seolah
menyambut gembira realisasi kebijakan pemerintahan Jokowi-Ahok ini.

“Warga kooperatif. Mungkin, karena pengerukan sebagai antisipasi banjir,” kata Erwin, salah seorang petugas
pelaksana proyek.

Pastinya, kooperatif tidak cuma karena ada harapan baru itu. Warga penghuni rumah-rumah semi permanen di bantaran sungai, kali ini, tidak merasa jadi korban gusur menggusur seperti yang biasa terjadi di Jakarta sebelum ini. Warga harus rela rumah dirobohkan, karena Pemprov memang menyiapkan pengganti Rumah Susun (Rusun) Komarudin di Cakung, Jakarta Timur.

Pantauan LICOM, warga merasa seperti dihargai daya hidupnya –sebagai masyarakat miskin– yang bertahun-tahun mencoba hidup di Jakarta. Wajar, tidak sampai terdengar ada hujatan, umpatan, tangisan pedih, apalagi doa warga miskin seperti yang biasa terlihat dalam pemandangan gusur menggusur dan merampas dagangan pedagang kaki lima pelanggar ketertiban. Padahal sejatinya, pelanggaran terjadi,lantaran sebelumnya ada pembiaran oleh oknum-oknum kelurahan maupun Satpol PP kecamatan sampai tingkat kota, karena mereka dijadikan “ATM haram” yang zaman Presiden Soeharto populer dengan sebutan “Pungli”.

Karenanya, proyek Pemprov DKI untuk pengerukan kali Sentiong ini rada berlebihan dikaitkan klaim-klaim sebagai desain pencitraan Jokowi maju Capres PDI Perjuangan, dan pencitraan Wagub Ahok menyiapkan diri jadi Gubernur DKI, penggantikan posisi Jokowi jika lolos masuk Istana.

Pengerukan kali Sentiong, bukan lagi jadi program mengatasi masalah banjir dengan masalah baru, layaknya sering menimpa khususnya masyarakat kelas bawah atau populer “orang pinggiran”.

Pengerukan kali ini ditargetkan berlangsung hingga dua bulan.Kedalaman yang dikeruk dari permukaan tanah, antara 3 sampai 4 meter. Pengerukan lumpur akan dilakukan sepanjang dua kilometer aliran kali. Kedalaman yang dikeruk 3-4 meter dari permukaan tanah.

Pasca dikeruk, dilakukan pemasangan turap (dinding beton) pada sisi kali yang berbatasan dengan jalan raya. Turap yang sudah lama nampak tidak kokoh lagi, ada kerusakan dan kebocoran. Jika dibiarkan, air kali akan tetap meluber ke jalanan jika debit air kali meninggi. Wajar, Jalan Sunter Agung setiap musim hujan kerap tergenang air seperti jadi kembaran Kali Sunter. Semoga tidak lagi? @

Reportase foto: FAIZAL_FANANI