LENSAINDONESIA.COM: Demi memberikan penghargaan tertinggi kepada Tim Nasional Ekspedisi Everest yang berhasil mengibarkan merah putih untuk kali pertama pada tahun 1997, Fadli Zon Library meluncurkan film dokumenter yang diberi judul ‘Merah Putih di Puncak Mount Everest.

Tim Nasional Ekspedisi Everest ini diprakarsai Capres Prabowo Subianto yang kala itu masih menjabat sebagai Danjen Kopasus. Visi Prabowo sebenarnya sangat sederhana, yaitu bagaimana Merah Putih bisa berkibar untuk kali pertama di puncak tertinggi dunia.

“Waktu itu, saya mendengar negara tetangga kita. Malaysia sedang mempersiapkan tim untuk bisa mencapai puncak Everest. Hal ini langsung membuat saya tergugah. Saya merasa tidak rela kalau Indonesia harus kembali menjadi nomor dua. Maka, saya langsung menyiapkan pasukan saya untuk melakukan Ekspedisi ke puncak Everest,” ujar Prabowo.

“Saat itu, belum ada satu pun negara asia tenggara yang mampu mencapai puncak Everest. Maka, inilah kesempatan kita sebagai negara besar untuk menunjukan kepada dunia bahwa kita bisa,” tambahnya.

Sadar bahwa pendakian ke puncak gunung yang mencapai ketinggian 8.848m diatas permukaan laut ini tidak mudah, maka Prabowo memilih orang-orang terbaik untuk turut serta mempersiapkan dan mendampingi tim selama pendakian. Ditunjuklah Anatoli Nikolaevich asal Kazakhstan yang juga dikenal dengan julukan The Ghost of Everest dan Richard Pawlosky asal Polandia sebagai pelatih tim.

Setelah melakukan persiapan singkat selama 2 bulan di Jakarta, Tim akhirnya dipecah menjadi dua kelompok dengan maksud berusaha untuk bisa mendahului tim asal Malaysia mencapai puncak tertinggi dunia. Tim pertama terdiri 6 orang melakukan pendakian melalui sisi utara (Tibet), sedangkan tim kedua yang berisikan 10 orang naik dari sisi selatan (Nepal).

Ditengah perjalanan, pelatih Tim yang juga menjadi pemandu mereka di Mount Everest, Boukreev sebenarnya meminta para pendaki untuk menyudahi pendakian. Pasalnya, kondisi para pendaki asal Indonesia saat itu sudah terlalu lemah, dan Boukreev khawatir bila pendakian diteruskan akan mengancam keselamatan jiwa para pendaki yang semuanya baru pertama kali merasakan kejamnya cuaca Mount Everest.

“Pelatih kami saat itu sebenarnya sudah meminta kami untuk mengurungkan niat dan kembali turun, tapi saya menolak. Saya katakan kepadanya kalau saya ini seorang prajurit, dan saya tidak akan berhenti sampai Merah Putih berkibar di puncak gunung tertinggi,” ujar Asmujiono yang menjadi satu-satunya pendaki yang berhasil menancapkan Merah Putih di Puncak Everest.

“Alhamdulillah atas ijin Allah, saya mampu mengibarkan Merah Putih. Meskipun setelahnya, saya harus kehilangan pendengaran dan pengelihatan saya, tapi saya tetap bangga. Karena dengan begitu, kita mampu menjadi negara Asia Tenggara pertama yang mampu mengibarkan bendera di puncak tertinggi dunia,” tambah Asmujiono.

Dalam peluncuran film dokumenter yang digelar di Hotel Kartika Chandra, Sabtu (26/04/2014) Asmujiono juga mendapatkan kejutan lain berupa penghargaan dari Musium Rekor Indonesia (Muri) sebagai orang Indonesia pertama yang mampu mencapai puncak Mount Everest. @muhammadrusjdi