Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
Art & Culture

Yarno meniti karir lukis dari bawah hingga bertaraf internasional 

LENSAINDONESIA.COM: Melukis bagi Yarno adalah sebuah bakat yang melekat pada dirinya. Pria asal Pagar Alam, Sumatera Selatan ini, kesehariannya adalah membuat karya seni.

Tangannya asyik menari di atas kanvas berukuran besar. Sangking asyiknya, butiran keringat pun tampak di dahinya.

“Saya mengawali dari menjadi pelukis dari Jogja dulunya,” kata  Yarno, salah satu pelukis di Jakarta, Kamis (1/5/2014).

Selain itu, Yarno mengaju jika meniti karir seni lukis ini dari bawah hingga sampai ke percaturan seni internasional. Seiring makin tingginya minat kolektor seni mancanegara terhadap karyanya, harga lukisan Yarno juga terus melesat.

Seniman berusia 44 tahun yang khas dengan kritik lingkungan, bahkan terakhir karyanya masuk di balai lelang Masterpiece Singapura, 13 April lalu. Banyak kolektor seni yang hadir mengejar satu-satunya lukisan karya Yarno berjudul Power Struggle yang dibuat pada 2011 itu.

“Lukisan saya memang bermakna kritik sosial. Tujuannya untuk keseimbangan kita sendiri. Masalah global warming yang saat ini ada bukan lagi menjadi isu, melainkan ancaman,” tandasnya.

Bahkan di akhir lelang, lukisan Yarno dibeli dengan harga total SGD 20.740. Artinyasetelah dikonversi telah menyentuh angka Rp.191 juta atau hampir Rp200 juta. Padahal, Yarno tergolong seniman baru tanah air. Jumlah karya yang dihasilkan bahkan belum mencapai 58 kanvas.

Pada awal Maret 2010, karya Yarno masih di harga Rp.9 juta dalam pameran bersama. Lalu naik terus di akhir 2011 menjadi Rp.18 juta setelah dipamerkan di Seoul, Korea, dan Singapura. Di pertengahan 2012, harga tawar lukisannya naik lagi menjadi Rp.25 juta. Dan pada 2013, karya Yarno terus melambung hingga menyentuh angka Rp.40 juta.

Namun, tidak semua kolektor berhasil memperoleh karya-karyanya walau ingin membelinya. Keunikan karya Yarno ada pada kepandaiannya mengolah kombinasi warna dan kekuatan goresannya menjadi kritik lingkungan yang sarkastik dan menjadi sebuah karya seni modern yang mengesankan. Tampilannya menarik dengan warna-warna monochrome bersifat kontemporer tanpa membuat jiwa jenuh.

Baca Juga:  Atlet balap sepeda Jatim juara umum CCI Series 2019

Meski sejatinya, Yarno mengusung aliran surealisme dalam karya-karya seni modernnya sejak 2009.

Sebuah keadaan lingkungan yang rusak, bisa diperhalus dalam goresan kuasnya, tanpa kehilangan makna utamanya. Yarno tetap mampu menumpahkan “keresahannya” terhadap pembabatan hutan, industrialisasi, tanpa menunjukkan “emos”.

Sementara, Direktur Galeri Apik Rahmat mengatakan pada pameran seni bergengsi di Art Stage Singapura 2014 lalu, lukisan-lukisan karya Yarno banyak mendapat decak kagum kolektor dan kurator seni museum mancanegara. Seluruh karya-karyanya juga habis dikoleksi.

“Banyak yang berminat untuk mengajak pameran. Rencananya November nanti Yarno akan berpameran di Taiwan,” kata Rahmat yang menaungi seniman berbakat di Jakarta.

Rahmat juga mengakui, demand (permintaan) terhadap karya Yarno sangat tinggi, khususnya oleh kolektor seni di Eropa dan Taiwan.

Sebelumnya, Yarno sukses menggelar pameran tunggalnya di Jakarta bertajuk Ultimate City pada 2012. Disusul kesuksesan pameran tunggal berikutnya di The Ritz Carlton Jakarta bertajuk Reborn pada 2013. Rahmat menambahkan, sepanjang tour de art-nya, tidak banyak seniman yang bisa melaju sedemikian pesat seperti Yarno. Bahkan di Art Stage Singapura 2014, karya terbaru Yarno dipamerkan bersama karya terbaru Made
Wianta dan Heri Dono.

Maka itu, wajar saja kalau karya Yarno disambut hangat kolektor seni di London (Inggris), Seoul (Korea), Jepang, Taiwan, Paris (Perancis), Australia, Singapura dan Beijing serta Shanghai (Tiongkok). Berdasarkan penelusuran, karya Yarno lainnya yang berjudul Leader juga akan dilelang di balai lelang seni 33 Auction di Singapura pada 11 Mei mendatang. @endang