Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
HEADLINE DEMOKRASI

Ada tiga faktor parpol mudah untuk berkoalisi 

LENSAINDONESIA.COM: Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golongan Karya (Golkar) Hjriyanto Y Thohari menilai dalam menjalin koalisi antar partai pada pemilihan presiden (Pilpres), setidaknya terdapat tiga dimensi yang mendasari partai itu berkoalisi.

Hal itu menurut Hajriyanto sangat lumrah dilakukan agar koalisi lebih mudah dibentuk.

“Koalisi biasanya selalu ada tiga dimensi yang mendasi, pertama dimensi idiologis, kedua dimensi program/agenda, dan yang terakhir dimensi tokoh,” kata  Hajriyanto dalam diskusi yang bertajuk ‘Arah Koalisi Menjelang Pilpres’ di Gedung MPR RI, Jakarta, Senin (12/05/2014).

Dari ketiga dimensi tersebut, Hajriyanto menjelaskan, dimensi idiologis dan dimensi progran/agenda lebih mudah untuk disatukan dalam menjalin koalisi partai menuju pilpres. Karena, lanjutnya, masing-masing partai yang memiliki idologi tertentu akan dengan mudah mengklaim idiologi yang bukan merupakan idiologi partainya.

“Partia biasanya, selalu mengaku bahwa partinya yang mulanya memiliki idiologi Islam berubah mengaku memiliki idiologi nasionalisme, kemudian tiba-tiba mengutamakan ekonomi kerakyatan,” tandasnya.

Selain itu, Hajriyanto mengungkapkan, akan sangat berbeda jika pembicaraan koalisi dihadapkan pada dimensi yang ketiga. pasalnya, terang Hajriyanto, dalam pembicaraan dimensi tokoh akan selalu terjadi tarik menarik, bahkan tidak menutup kemungkinan koalisi yang ingin dijalin akan gagal jika dimensi tokoh tidak dicapai kesepakatan.

“Dimensi yang ketiga sangat sulit untuk mencari titik temunya, Kebuntuan koalisi biasanya selalu pada titik yg ketiga ini,” jelasnya.

Dampaknya, tambah Hajriyanto, koalisi sekarang lebih kepada pragmatisme, dimana, koalisi hanya akan dibangun kepada partai yang memiliki kemungkinan besar memenangkan pilpres, bahkan, ukurannya juga hanya berdasarkan tingginya elektabilitas.

“Sekarang pragmatis, pragmatisme yang oportunistik, dimana koalisinya sekarang lebih pada yang kemungkinan besar menang, atau dengan keyakinan yang menang, dan fatalnya selalu berdasarkan lembaga survey,” pungkasnya. @endang

Baca Juga:  Akui penghasilan lumayan meski pengangguran, pengedar ganja di Tambun diringkus Polres Bekasi