LENSAINDONESIA.COM: Sat Reskrim Polrestabes Surabaya telah merampungkan penyidikan kasus pencuri dan penyebar kunci Unas Sekolah Menengah Atas (SMA) yang dilakukan Gosok dan kawan kawan serta tiga orang lainnya yakni, M Abid (mahasiswa), Edi Purnomo (oknum guru) dan Ibnu Mubarok.

Dalam penyidikan terungkap, oknum guru SMA Negeri 1 Buluk Lamongan dan beberapa oknum guru sekolah swasta, saat sedang mengambil naskah ujian dikawal petugas kepolisian. Modusnya, oknum guru itu mengelabui petugas kepolisian dengan mengajak makan di sebuah rumah makan. Saat sedang makan itulah, para pelaku pencurian kunci Unas yang dalam keadaan disegel langsung beraksi.

Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Setija Junianta mengatakan, kasus ini terjadi di dua wilayah, yakni Lamongan dan Surabaya. Dalam waktu dekat akan dilakukan gelar perkara di Mapolda Jatim, untuk menentukan dan menetapkan pelaku, sedang pihak Polrestabes Surabaya hanya fokus yang ada di wilayahnya sendiri.

“Pencurian ini dilakukan kelompok oknum guru sekolah SMA di Lamongan. Modusnya saat dilakukan pendistribusian, pelaku mengajak petugas polisi singgah di rumah makan. Kesempatan itu digunakan untuk mencuri kunci Unas dengan merusak segel,” terang Kombes Pol Setija Junianta.

Para pelaku yang sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh Polrestabes Surabaya dijerat Pasal 322 tentang pembocoran rahasia negara juncto 480 KUHP. Sayangnya pelaku tidak penahan dan hanya dikenakan wajib lapor. “Saat ini ada delapan pelaku yang sudah kami tetapkan sebagai tersangka. Namun dalam kasus ini tidak dilakukan penahanan dan hanya dilakukan wajib lapor,” tambahnya.

Terungkapnya kasus yang mencoreng dunia pendidikan tersebut berawal dari terungkapnya dua siswa kelas XII SMA Negeri 12 Surabaya yang diamankan Satreskrim Polrestabes Surabaya. Saat itu tepat pada hari ketiga Unas, mereka kedapatan menjual kunci Unas seharga Rp 150-200 ribu yang didapat dari tersangka M Abid, mahasiswa salah satu perguruan di Surabaya. @rofik